Buku Tamu, leave your comment here!!

Selasa, 26 April 2011

Osteoporosis Pada Laki-Laki

Jakarta, Kompas


JUMLAH total penduduk dunia tahun 2000 enam milyar. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, tahun 2025 menjadi sembilan milyar, dengan konsentrasi di negara berkembang.

Jumlah penduduk usia lanjut juga terus meningkat. Tahun 2000, penduduk di atas 65 tahun ada 400 juta, namun 2025 diperkirakan mencapai 1,5 milyar. Dari jumlah itu, sekitar satu milyar orang hidup di negara berkembang.


Peningkatan jumlah usia lanjut akan membawa dampak sosial yang berarti bagi setiap negara berkembang. Berbagai masalah kesehatan bermunculan. Salah satunya yang memerlukan biaya besar adalah dampak dari kekroposan tulang berupa patah tulang pada wanita maupun laki-laki usia lanjut.

Apakah istilah "usia lanjut" sudah tepat digunakan bagi mereka yang memasuki usia senja? Orang sering membayangkan, usia lanjut berarti sudah duduk di kursi roda, memakai syal di leher, sering batuk-batuk, dan badan bongkok. Padahal, hal seperti ini belum tentu terjadi pada semua orang tua. Di negara maju, mereka malah disebut sebagai "warga negara senior yang terhormat".

Tubuh bongkok sering diasosiasikan dengan osteoporosis pada wanita, sedangkan pada laki-laki masih kurang mendapat perhatian. Pada wanita, osteoporosis terjadi akibat proses penuaan pada kedua indung telur sehingga terjadi penurunan produksi hormon estrogen yang sangat tajam.

Pemberian estrogen dapat mencegah patah tulang pada wanita hingga 60%. Begitu wanita memasuki usia tertentu, misalnya 49 tahun, sudah pasti produksi estrogen menurun. Hal ini berbeda dengan laki-laki, di mana produksi hormon testosteron tidak menurun secara tajam, melainkan perlahan-lahan.

Proses terjadinya osteoporosis pada laki-laki sangat rumit dan belum begitu jelas. Yang sudah pasti, dengan makin meningkatnya usia laki-laki, angka kejadian osteoporosis juga meningkat. Menurunnya produksi berbagai jenis hormon seperti testosteron, hormon pertumbuhan (IGF-1), dan hormon paratiroid, erat kaitannya dengan kejadian patah tulang pada laki-laki. Bahkan rendahnya hormon wanita seperti estradiol juga berperan pada proses terjadinya osteoporosis pada laki-laki.

Pemberian estrogen pada laki-laki dapat mencegah osteoporosis. Jadi, estrogen tidak hanya berguna bagi kaum hawa, namun juga bagi kaum adam. Hanya saja penggunaannya perlu ditangani oleh yang benar-benar ahli, karena estrogen adalah hormon wanita.

Pemberian testosteron pada laki-laki telah terbukti dari berbagai penelitian dapat meningkatkan massa tulang secara bermakna. Telah ditemukan reseptor testosteron dalam jumlah besar pada sel-sel tulang (osteoblas). Selain itu, tubuh akan mengubah testosteron melalui proses aromatisasi menjadi estrogen sehingga estrogen bersamaan dengan testosteron akan lebih efektif lagi mencegah hilangnnya massa tulang.

Laki-laki yang mengalami kekurangan enzim aromatase dalam tubuhnya akan lebih mudah lagi mengalami osteoporosis. Sayangnya, masih banyak kaum laki-laki yang belum mengetahui tentang hal ini. Karena memang wanita menopause banyak mengalami keluhan, mereka lebih sering berobat ke dokter.

Laki-laki usia andropause sedikit mengalami keluhan, sehingga mereka jarang mau ke dokter untuk berkonsultasi. Padahal, osteoporosis sedikit sekali memberikan keluhan. Kalaupun mereka ke dokter biasanya sudah mengalami osteoporosis lanjut, bahkan sudah mengalami patah tulang.

Deteksi dini osteoporosis dapat dilakukan dengan alat densitometer. Kadar testosteron yang rendah, perokok, minum alkohol, kurang bergerak, dan menggunakan pengobatan dengan kortikosteroid jangka panjang, merupakan risiko terkena osteoporosis.

Selain testosteron untuk mencegah osteoporosis, pada laki-laki di atas 65 tahun juga dianjurkan menggunakan kalsium dengan dosis 1.500 mg/hari dan Vitamin D 800 IU/hari.

Meskipun menurut perkiraan jumlah mereka yang memasuki usia lanjut di Indonesia bakal terus meningkat, sebenarnya kemungkinan peningkatan osteoporosis dapat dicegah asalkan mau mengubah pola hidup.

Di Indonesia banyak sekali jenis makanan yang mengandung phitoestrogen dengan kadar yang tinggi, yang tidak dimiliki oleh negara lain. Kacang kedelai, kacang merah, bengkuang, pepaya, dan banyak lagi jenis makanan berkadar phitoestrogen tinggi, tumbuh subur di Indonesia. Selain itu, kena sinar matahari yang cukup dan olahraga teratur dapat mencegah osteoporosis secara bermakna.

Klinik-klinik menopause sudah mulai banyak bermunculan di Indonesia, namun klinik yang menangani andropause hampir tidak ada. Mudah-mudahan tidak lama lagi di Indonesia bisa diharapkan adanya klinik andropause, agar kaum laki-laki juga dapat berkonsultasi tentang masalah mereka.

(Dr med Ali Baziad SpOG KFER, bagian obstetri dan ginekologi FKUI/RSCM, Jakarta)

0 komentar:

Posting Komentar

Bagi Para Pengunjung yang tidak memiliki account di mana pun, baik itu di google, wordpress atau yang lainnya, silahkan pilih ANONYMOUS untuk memberi komentar, harap menyertakan nama atau email! Thanks....

COMMENTS

free counters

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More