Buku Tamu, leave your comment here!!

This is default featured post 1 title

Welcome To My Site! "Hiduplah sesuka mu, sesungguhnya engkau pasti mati! Cintailah apapun yang engkau mau, sesungguhnya engkau pasti berpisah dengannya! dan kerjakanlah apapun yang engkau mau, sesungguhnya engkau pasti diberi balasan atas apa yang engkau kerjakan!

This is default featured post 2 title

Ilmu Itu bagai mata air, semakin jauh dari sumbernya akan semakin keruh.

This is default featured post 3 title

Sesungguhnya segala sesuatu itu mempunyai tanda-tanda, jika sudah sampai pada puncaknya maka akan tiba saat kehancurannya!

This is default featured post 4 title

Dunia ini seindah apa yang kita pikirkan dan seburuk apa yang kita pikirkan pula, namun akhirat tidaklah sama seperti apa yang kita pikirkan! Kedahsyatan neraka jauh lebih dahsyat dari pikiran kita! dan keindahan surga jauh lebih indah dari pikiran kita

This is default featured post 5 title

Jangan meremehkan hal-hal kecil, sesungguhnya gunung itu berasal dari kerikil!

Tampilkan postingan dengan label Poems. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poems. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 April 2011

Bersamanya................ (bisikan jingga yang ternoda)

“jingga yang ternoda” halah…………  kata-kata itu lagi…
Kata-kata itu selalu membangkitkan fosil-fosil cinta yang melegenda!
Kenapa tak pernha enyah?

Dinding-dinding cintaku meretak karena guncangan dahsyat akar kekecewaan,
Namun dinding itu tak pernah runtuh walau panah-panah benci menghujam!
Dahsyat… sangat dahsyat…. Kekuatan yang pastinya sangat sulit untuk ditaklukkan.

Panah-panah menghujam, pasak-pasak berdiri kukuh terpancang, sebuah sekenario yang tak tentu siapa dalangnya?

Kadang aku menjadi seakan  wayang, cinta menjadi dalang, tak mampu ku bergerak jika ia tak menggerakkanku!
Ku tak tau apa yang harus aku lakukan, namun cinta tau karena dia yang tentukan.

Lelah, cinta yang melelahkan…
Akankah harapanku padanya menjadi kenyataan?
Namun lelah ini begitu menyenangkan, karena tanpanya aku hanya diam tertancap di batang pisang!
Sampai kapan aku menjadi wayang? Dan kapankah aku bisa menjadi dalang? Bisakah? Mungkinkah? Ku dapat gerakkan cinta dengannya… sanggupkah? Dengan dia? DENGAN DIA?


13/10/09


Rabu, 06 April 2011

MY ROSE


"MY ROSE"
(For Rumput-Q)

Selagi akar terancap kokoh, batang berdiri tegak, dedaunan bersemi serta bunga menguncup; selama itu bias cahaya mentari tak jenuh menerangi relung hati yang gundah gulana.
Tetap berkecamuk, tinular bergemuruh di balik senyum perih kekhawatiran… setitik embun mampu tenangkan dan sejukkan panas gersang berkepanjangan, kini embun menguap…. Menguap memendung menanti hujan.. gelap…
Seberkas cahaya masih terbias! Menembus celah-celah kerindangan keputusasaan dalam nurani, rupanya dalam kegelapan yang legam masih ada setitik cahaya! Cahaya harapan ketika biji telah berbuah….
Mawar merekah menyiratkan sebilah senyum pada dunia, bunga-bunga indah harum semerbak di malam hari, mengharumi dunia yang merenta, mata ini kembali berkaca..
Berkata jiwa pada dunia, berbisik impian pada kenyataan, sadar terpekur dalam kebisingan, lamunan membubunga jauhi kenyataan! Mata ini sekali lagi berkaca…………..
Hujan pun turun, sejukkan jiwa yang menggersang terimpa kemarau panjang kerinduan, kini mulai segar menghijau ditumbuhi rerumputan, hiasi impian! Berharap kan menjadi kenyataan di masa depan…

Sampang, Wednesday 3/2/2010
By: M. Ridwanullah

Tekad

"Tekad"
(For Rumput-Q)

Tanpa ku sadari, ku telah terlalu jauh melangkah..
Melangkahkan kaki, menghayunkan tangan dengan gontai..
Hingga ku berdiri jauh dari tempat awal ku berpijak!
Goresan demi goresan perlahan menyayatku..
Rupanya..
Ku terjebak dalam ranjau yang dapat membunuhku…
Tak ada pilihan bagi ku untuk diam..
Atau ranjau kan menikamku..
Tak ada pula pilihan untuk mundur……
Atau penderitaan kan mengepungku…
Pilihan ku hanya tetap maju…
Dengan hati berdebar ku yakinkan diriku tuk maju
Langkah demi langkah tersapu berlalu..
Dan…. Ku terhenti di langkah ke sekian ku…
Mataku terbelalak menatap jurang terjal tersenyum padaku..
Nampak lampar,,, hendak menelanku…
Oh Tuhan… inikah ajalku???
Ku terdiam.. meyakinkan diri.. ini bukanlah ajalku...
Sekejap saja.. derap langkah penderitaan mendekat… mengepungku..
Tak ada banyak waktu tuk terpaku…
Harus segera ku putuskan..
Ambil jalan lain…
Ku putar arah ku ke arah yang berbeda…
Derap langkah itu kian cepat mendekatiku…
Ku pacu langkahku.. segenap tenagaku…
Telapak kaki merapuh tergigit bebatuan tajam,…
Tersayat duri tajam yang menghunus seakan pedang…
Tak terhitung… berapa kali ku tersungkur jatuh lalu kembali bangkit…
Yang ku tahu hanyalah pakaian putihku yang berubah ternoda warna merah..
Percikan merah menandai setiap jengkal tanah yang ku pijak..
Perih…
Jasadku tak ku rasa ada..
Tersiksa..
Langkah terakhir ku rasa..
Jatuh dihadapan bias cahaya..
Lalu gelap gulita….

Bayangan

“Bayangan”
Denyit rintihan batang aur.. masih mengalun lembut di telinga,,
Terhempas tarian udara yang membuatnya mengalunkan rintihan syahdu..
Ayunkan dahan menari-nari..
Ramaikan suasana hati yang menghening sepi….
Sayup-sayup mata menyorot angkasa…
Melirik dengan lirih bias rembulan yang mengintip malu di balik dedahan..
“aku tak sendiri”
Mata tak sanggup ku pejamkan…
Telinga memekar mendengar suara jangkrik yang retakkan hening malam…
Denyit rerantingan lengkapi kemeriahan malam..
Terdengar merdu seakan memainkan lagu klasik tentang sejarah cinta…
Ku terdaim terpaku…
Pandanganku beralih ke arah dinding,,,,
Menatap lingkaran tua dengan tiga jarum di tengahnya,, ia tak kenal lelah… berputar..
Dan si bungsu jarum kecil telah jauh meninggalkan angka 12..
Malam kian larut..
Namun mataku tak jua terpejam…
Bayangnya seakan mencegah mataku terpejam..
Menari lincah di ruang hampa dunia maya…
Ia siratkan sebilah senyum padaku..
Dan akupun tersenyum padanya..
Dia indah…
Membuatku betah berkelana dalam imajinasi..
Ku enggan kembali…
Perlahan bunyi jangkrik meredam..
Kabur tergantikan kicau burung yang melepas simpul ikatan lamunanku…
Tak sedetik pun mataku terpejam..
Kini .. Tak kulihat lagi bias rembulan yang yang sedari tadi melirik ku dari balik dedahan…
Mentari pagi mengusirnya…
Hari baru kini dimulai…
Dengan lamunan dan harapan baru,,,
Bersamanya…..


Sampang, 08-02-2010
For: Rumput-Q

JERITAN HATI KU UNTUK INDONESIA



“JERITAN HATI KU UNTUK INDONESIA”
Hendak ke manakah asa?
Sedang cakrawala tak beranjak dari semesta
Gelombang datang menjemput suka duka
Dan waktu mengalir ke tengah samudera
Indonesia…
Akan berlalukah asa?
Sementara desir angin buritan tak jemu
Mengantarkan cita
Karena kehidupan tak pernah sembunyikan sisi balik kepahitan
Betapapun pekat dan lagamnya kepedihan
Indonesia……..
Masihkah kabut semayamkan asa
Kala buaian negeri sematkan janji
Tak ada duka yang terlalu perih
Walau cahaya bintang terlalu ringkih
Tanpa asa dan cita-cita
Indonesia, Indonesia, Indonesia, Indonesia, Indonesia
Negeriku di belahan khatulistiwa
Dulu kau berjaya
Namun kini miskin papa
Lautmu kering karena keangkuhanmu
Ladangmu gersang karena karena kerakusan penguasamu
Alammu hilang karena kebodohan rakyatmu
Indonesia…
Dengarlah jeritan hati kecil rakyatmu
Yang telah letih merintih karena perut kian memipih
Letih memomong bayi dengan susu tersapih
Letih mengaharap kasih dengan langkah tertatih
Letih… letih… letih… dan letih…
Namun kau Indonesia
Hanya buaikan janji..
Sementara rakyatmu menjual harga diri demi sesuap nasi
Indonesia…
Dulu pahalawanmu berseru
Merdeka!!!!!
Kini kau merdeka???
"Indonesia tanah air beta..
Pusaka abadi nan jaya..
Indonesia sejak dulu kala
Selalu dipuja-puja bangsa"
Indonesia….
Lirikkan pandanganmu
Ulurkan tanganmu
Pada rakyatmu yang bergelayut di dasi pemimpinmu
Mengharap secercah cita
Di bumi mu… indonesia

M. Ridwanullah
Sampang, April 2009

Fana

"Fana"
(Terinspirasi dari seorang yang aku banggakan)

Dalam heningku
Beredar dunia dalam imajinasi
Rindang hijau bak hutan belantara
Indah berkilau bak mutiara
Segar suburkan  asa dan cita-cita

Fatamorgana
Kala ku sadar dan terjaga
Hijau itu kering tak tersisa
Hijau itu hanya imajinasi, tak nyata
Hijau itu pudar tertelan masa

Melesat dalam angan
Orang-orang lalu lalang dalam kehijauan
Angan hilang diterpa kenyataan
Orang-orang lalu lalang dalam penyesalan

Dunia hijau segar
Kian kau teguk, kian terasa dahaga jiwa
Kian kau kejar, kian membubung angan dan khayal
Kian kau terlena, kian kau binasa bersamanya

Dunia ini... fatamorgana..............

Jakarta, 06 April 2011

Jumat, 25 Februari 2011

Jingga Yang Ternoda,,,,,


“Bayangan”
Denyit rintihan batang aur.. masih mengalun lembut di telinga,,
Terhempas tarian udara yang membuatnya mengalunkan rintihan syahdu..
Ayunkan dahan menari-nari..
Ramaikan suasana hati yang menghening sepi….
Sayup-sayup mata menyorot angkasa…
Melirik dengan lirih bias rembulan yang mengintip malu di balik dedahan..
“aku tak sendiri”
Mata tak sanggup ku pejamkan…
Telinga memekar mendengar suara jangkrik yang retakkan hening malam…
Denyit rerantingan lengkapi kemeriahan malam..
Terdengar merdu seakan memainkan lagu klasik tentang sejarah cinta…
Ku terdaim terpaku…
Pandanganku beralih ke arah dinding,,,,
Menatap lingkaran tua dengan tiga jarum di tengahnya,, ia tak kenal lelah… berputar..
Dan si bungsu jarum kecil telah jauh meninggalkan angka 12..
Malam kian larut..
Namun mataku tak jua terpejam…
Bayangnya seakan mencegah mataku terpejam..
Menari lincah di ruang hampa dunia maya…
Ia siratkan sebilah senyum padaku..
Dan akupun tersenyum padanya..
Dia indah…
Membuatku betah berkelana dalam imajinasi..
Ku enggan kembali…
Perlahan bunyi jangkrik meredam..
Kabur tergantikan kicau burung yang melepas simpul ikatan lamunanku…
Tak sedetik pun mataku terpejam..
Kini .. Tak kulihat lagi bias rembulan yang yang sedari tadi melirik ku  dari balik dedahan…
Mentari pagi mengusirnya…
Hari baru kini dimulai…
Dengan lamunan dan harapan baru,,,
Bersamanya…..

Moh. Ridwanullah
Sampang, 8-February-2010

Kamis, 24 Februari 2011

Sebuah Cinta

Oleh: Qathrien Izzah Fitri




Allah Tuhanku…
                          KepadaMu aku titipkan sebuah cinta
                          Yang begitu besar dan mendalam
                          Kepada ummat ini
                                    Ummat mulia bimbingan nabi Mu
                                    Ummat akhir zaman yang beriman kepada Mu
                                    Ummat intelektual yang tangguh
                                    Ummat tak terkalahkan bak baja

PERENUNGAN

Oleh: Qathrien Izzah Fithri


Tuhan,
Aku tahu bahwa diriku
Adalah seorang pendosa
Tak pernah kupatuhi
Apa-apa yang Kau perintahkan
Padaku
Namun, kasihMu tetap mengalir

COMMENTS

free counters

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More