“jingga yang ternoda” halah………… kata-kata itu lagi…
Kata-kata itu selalu membangkitkan fosil-fosil cinta yang melegenda!
Kenapa tak pernha enyah?
Dinding-dinding cintaku meretak karena guncangan dahsyat akar kekecewaan,
Namun dinding itu tak pernah runtuh walau panah-panah benci menghujam!
Dahsyat… sangat dahsyat…. Kekuatan yang pastinya sangat sulit untuk ditaklukkan.
Panah-panah menghujam, pasak-pasak berdiri kukuh terpancang, sebuah sekenario yang tak tentu siapa dalangnya?
Kadang aku menjadi seakan wayang, cinta menjadi dalang, tak mampu ku bergerak jika ia tak menggerakkanku!
Ku tak tau apa yang harus aku lakukan, namun cinta tau karena dia yang tentukan.
Lelah, cinta yang melelahkan…
Akankah harapanku padanya menjadi kenyataan?
Namun lelah ini begitu menyenangkan, karena tanpanya aku hanya diam tertancap di batang pisang!
Sampai kapan aku menjadi wayang? Dan kapankah aku bisa menjadi dalang? Bisakah? Mungkinkah? Ku dapat gerakkan cinta dengannya… sanggupkah? Dengan dia? DENGAN DIA?
13/10/09







0 komentar:
Posting Komentar
Bagi Para Pengunjung yang tidak memiliki account di mana pun, baik itu di google, wordpress atau yang lainnya, silahkan pilih ANONYMOUS untuk memberi komentar, harap menyertakan nama atau email! Thanks....