Buku Tamu, leave your comment here!!

This is default featured post 1 title

Welcome To My Site! "Hiduplah sesuka mu, sesungguhnya engkau pasti mati! Cintailah apapun yang engkau mau, sesungguhnya engkau pasti berpisah dengannya! dan kerjakanlah apapun yang engkau mau, sesungguhnya engkau pasti diberi balasan atas apa yang engkau kerjakan!

This is default featured post 2 title

Ilmu Itu bagai mata air, semakin jauh dari sumbernya akan semakin keruh.

This is default featured post 3 title

Sesungguhnya segala sesuatu itu mempunyai tanda-tanda, jika sudah sampai pada puncaknya maka akan tiba saat kehancurannya!

This is default featured post 4 title

Dunia ini seindah apa yang kita pikirkan dan seburuk apa yang kita pikirkan pula, namun akhirat tidaklah sama seperti apa yang kita pikirkan! Kedahsyatan neraka jauh lebih dahsyat dari pikiran kita! dan keindahan surga jauh lebih indah dari pikiran kita

This is default featured post 5 title

Jangan meremehkan hal-hal kecil, sesungguhnya gunung itu berasal dari kerikil!

Tampilkan postingan dengan label Harun Yahya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Harun Yahya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 April 2011

Yang Hendaknya Dipikirkan Manusia

  
Sejak awal, kami telah menekankan pentingnya berpikir, manfaat-manfaatnya bagi manusia dan sarana yang membedakan manusia dari makhluk lain. Kami telah menyebutkan pula sebab-sebab yang menghalangi manusia dari berpikir. Semua ini mempunyai tujuan utama mendorong manusia untuk berpikir dan membantu mereka mengetahui tujuan penciptaan dirinya; serta agar manusia mengagungkan ilmu dan kekuasaan Allah yang tak terbatas.
Di halaman-halaman berikutnya, kami akan mencoba menjelaskan bagaimana orang yang beriman kepada Allah berpikir tentang segala sesuatu yang dijumpainya sepanjang hari dan mendapatkan pelajaran dari peristiwa-peristiwa yang ia saksikan; bagaimana ia seharusnya bersyukur dan menjadi semakin dekat kepada Allah setelah menyaksikan keindahan dan ilmu Allah di segala sesuatu.
Sudah pasti apa yang disebutkan di sini hanya mencakup sebagian kecil dari kapasitas berpikir seorang manusia. Manusia memiliki kemampuan untuk setiap saat (dan bukan setiap jam, menit atau detik, tapi satuan waktu yang lebih kecil dari itu, yakni setiap saat) dalam hidupnya. Ruang lingkup berpikir manusia sedemikian luasnya sehingga tidak mungkin untuk dibatasi. Oleh karena itu, uraian di bawah ini bertujuan untuk sekedar membukakan pintu bagi mereka yang belum menggunakan sarana berpikir mereka sebagaimana mestinya.
Perlu diingat bahwa hanya mereka yang berpikir secara mendalam lah yang mampu memahami dan berada pada posisi lebih baik dibandingkan makhluk lain. Mereka yang tidak dapat melihat keajaiban dari peristiwa-peristiwa di sekitarnya dan tidak dapat memanfaatkan akal mereka untuk bepikir adalah sebagaimana diceritakan dalam firman Allah berikut:
"Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti." (QS. Al-Baqarah, 2: 171)
"… Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS. Al-A'raaf, 7: 179)
"Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)." (QS. Al-Furqaan, 25: 44)
Hanya mereka yang mau berpikir yang mampu melihat dan kemudian memahami tanda-tanda kebesaran Allah, serta keajaiban dari obyek dan peristiwa-peristiwa yang Allah ciptakan. Mereka mampu mengambil sebuah kesimpulan berharga dari setiap hal, besar ataupun kecil, yang mereka saksikan di sekeliling mereka.
  • Ketika seseorang bangun dari tidurnya di pagi hari…

Tidak diperlukan kondisi khusus bagi seseorang untuk memulai berpikir. Bahkan bagi orang yang baru saja bangun tidur di pagi hari pun terdapat banyak sekali hal-hal yang dapat mendorongnya berpikir.
Terpampang sebuah hari yang panjang dihadapan seseorang yang baru saja bangun dari pembaringannya di pagi hari. Sebuah hari dimana rasa capai atau kantuk seakan telah sirna. Ia siap untuk memulai harinya. Ketika berpikir akan hal ini, ia teringat sebuah firman Allah:
"Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha." (QS. Al-Furqaan, 25: 47)
Setelah membasuh muka dan mandi, ia merasa benar-benar terjaga dan berada dalam kesadarannya secara penuh. Sekarang ia siap untuk berpikir tentang berbagai persoalan yang bermanfaat untuknya. Banyak hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan dari sekedar memikirkan makanan apa yang dipunyainya untuk sarapan pagi atau pukul berapa ia harus berangkat dari rumah. Dan pertama kali ia harus memikirkan tentang hal yang lebih penting ini.
Pertama-tama, bagaimana ia mampu bangun di pagi hari adalah sebuah keajaiban yang luar biasa. Kendatipun telah kehilangan kesadaran sama sekali sewaktu tidur, namun di keesokan harinya ia kembali lagi kepada kesadaran dan kepribadiannya. Jantungnya berdetak, ia dapat bernapas, berbicara dan melihat. Padahal di saat ia pergi tidur, tidak ada jaminan bahwa semua hal ini akan kembali seperti sediakala di pagi harinya. Tidak pula ia mengalami musibah apapun malam itu. Misalnya, kealpaan tetangga yang tinggal di sebelah rumah dapat menyebabkan kebocoran gas yang dapat meledak dan membangunkannya malam itu. Sebuah bencana alam yang dapat merenggut nyawanya dapat saja terjadi di daerah tempat tinggalnya.
Ia mungkin saja mengalami masalah dengan fisiknya. Sebagai contoh, bisa saja ia bangun tidur dengan rasa sakit yang luar biasa pada ginjal atau kepalanya. Namun tak satupun ini terjadi dan ia bangun tidur dalam keadaan selamat dan sehat. Memikirkan yang demikian mendorongnya untuk berterima kasih kepada Allah atas kasih sayang dan penjagaan yang diberikan-Nya.
Memulai hari yang baru dengan kesehatan yang prima memiliki makna bahwa Allah kembali memberikan seseorang sebuah kesempatan yang dapat dipergunakannya untuk mendapatkan keberuntungan yang lebih baik di akhirat.
Ingat akan semua ini, maka sikap yang paling sesuai adalah menghabiskan waktu di hari itu dengan cara yang diridhai Allah. Sebelum segala sesuatu yang lain, seseorang pertama kali hendaknya merencanakan dan sibuk memikirkan hal-hal semacam ini. Titik awal dalam mendapatkan keridhaan Allah adalah dengan memohon kepada Allah agar memudahkannya dalam mengatasi masalah ini. Doa Nabi Sulaiman adalah tauladan yang baik bagi orang-orang yang beriman:
"Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni'mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh" (QS. An-Naml, 27 : 19)

  • Bagaimana kelemahan manusia mendorong seseorang untuk berpikir?

Tubuh manusia yang demikian lemah ketika baru saja bangun dari tidur dapat mendorong manusia untuk berpikir: setiap pagi ia harus membasuh muka dan menggosok gigi. Sadar akan hal ini, ia pun merenungkan tentang kelemahan-kelemahannya yang lain. Keharusannya untuk mandi setiap hari, penampilannya yang akan terlihat mengerikan jika tubuhnya tidak ditutupi oleh kulit ari, dan ketidakmampuannya menahan rasa kantuk, lapar dan dahaga, semuanya adalah bukti-bukti tentang kelemahan dirinya.
Bagi orang yang telah berusia lanjut, bayangan dirinya di dalam cermin dapat memunculkan beragam pikiran dalam benaknya. Ketika menginjak usia dua dekade dari masa hidupnya, tanda-tanda proses penuaan telah terlihat di wajahya. Di usia yang ketigapuluhan, lipatan-lipatan kulit mulai kelihatan di bawah kelopak mata dan di sekitar mulutnya, kulitnya tidak lagi mulus sebagaimana sebelumnya, perubahan bentuk fisik terlihat di sebagian besar tubuhnya. Ketika memasuki usia yang semakin senja, rambutnya memutih dan tangannya menjadi rapuh.
Bagi orang yang berpikir tentang hal ini, usia senja adalah peristiwa yang paling nyata yang menunjukkan sifat fana dari kehidupan dunia dan mencegahnya dari kecintaan dan kerakusan akan dunia. Orang yang memasuki usia tua memahami bahwa detik-detik menuju kematian telah dekat. Jasadnya mengalami proses penuaan dan sedang dalam proses meninggalkan dunia ini. Tubuhnya sedikit demi sedikit mulai melemah kendatipun ruhnya tidaklah berubah menjadi tua. Sebagian besar manusia sangat terpukau oleh ketampanan atau merasa rendah dikarenakan keburukan wajah mereka semasa masih muda. Pada umumnya, manusia yang dahulunya berwajah tampan ataupun cantik bersikap arogan, sebaliknya yang di masa lalu berwajah tidak menarik merasa rendah diri dan tidak bahagia. Proses penuaan adalah bukti nyata yang menunjukkan sifat sementara dari kecantikan atau keburukan penampilan seseorang. Sehingga dapat diterima dan masuk akal jika yang dinilai dan dibalas oleh Allah adalah akhlaq baik beserta komitmen yang diperlihatkan seseorang kepada Allah.
Setiap saat ketika menghadapi segala kelemahannya manusia berpikir bahwa satu-satunya Zat Yang Maha Sempurna dan Maha Besar serta jauh dari segala ketidaksempurnaan adalah Allah, dan iapun mengagungkan kebesaran Allah. Allah menciptakan setiap kelemahan manusia dengan sebuah tujuan ataupun makna. Termasuk dalam tujuan ini adalah agar manusia tidak terlalu cinta kepada kehidupan dunia, dan tidak terpedaya dengan segala yang mereka punyai dalam kehidupan dunia. Seseorang yang mampu memahami hal ini dengan berpikir akan mendambakan agar Allah menciptakan dirinya di akhirat kelak bebas dari segala kelemahan.
Segala kelemahan manusia mengingatkan akan satu hal yang menarik untuk direnungkan: tanaman mawar yang muncul dan tumbuh dari tanah yang hitam ternyata memiliki bau yang demikian harum. Sebaliknya, bau yang sangat tidak sedap muncul dari orang yang tidak merawat tubuhnya. Khususnya bagi mereka yang sombong dan membanggakan diri, ini adalah sesuatu yang seharusnya mereka pikirkan dan ambil pelajaran darinya.
Bagaimana beberapa karakteristik tubuh manusia membuat anda berpikir?
Ketika melihat diri sendiri di dalam cermin, seseorang berpikir tentang berbagai hal yang sebelumnya tak pernah muncul dalam benaknya. Sebagai contoh: bulu mata, alis, tulang belulang dan gigi-giginya tidak tumbuh memanjang terus menerus. Dengan kata lain, di bagian tubuh dimana pertumbuhan anggota badan yang terus menerus akan menjadi sesuatu yang menyusahkan dan menghalangi pandangannya, maka anggota tubuh tersebut berhenti tumbuh. Sebaliknya, rambut yang kelihatan indah jika tumbuh memanjang, tidak berhenti tumbuh. Disamping itu, ada keseimbangan yang sempurna dalam pertumbuhan tulang-belulang. Misalnya tulang anggota bagian atas tidak akan tumbuh memanjang begitu saja sehingga menyebabkan badan kelihatan lebih pendek. Semua tulang ini berhenti pada saat tertentu seakan-akan tiap-tiap tulang tersebut tahu seberapa panjang mereka harus tumbuh.
Sudah barang tentu, semua yang telah disebutkan di sini terjadi akibat dari reaksi-reaksi fisika dan kimia yang terjadi dalam tubuh. Orang yang merenungkan hal ini akan juga bertanya-tanya bagaimana reaksi-reaksi ini terjadi. Siapa yang memasukkan hormon-hormon dan enzim-enzim yang bertanggung jawab atas pertumbuhan ke dalam tubuh sesuai dengan dosis yang dibutuhkan? Dan siapakah yang mengontrol kadar dan waktu sekresi dari hormon dan enzim tersebut?
Tidak dapat dipungkiri bahwa mustahil untuk mengatakan bahwa ini semua terjadi secara kebetulan. Tidaklah mungkin sel-sel atau atom-atom pembentuk manusia yang tidak mempunyai kesadaran tersebut melakukan hal yang demikian dengan sendirinya. Ini adalah bukti bahwa fenomena tersebut terjadi karena kekuasaan Allah yang menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

  • Ketika dalam perjalanan…

Setelah bangun tidur dan bersiap-siap di pagi hari, orang-orang kemudian berangkat ke kantor, sekolah atau melakukan pekerjaan mereka di luar rumah. Bagi orang yang beriman, keberangkatan ini adalah awal dari melakukan amal kebaikan yang mendatangkan ridha Allah. Ketika meninggalkan rumah dan bepergian ke luar, seseorang akan menjumpai banyak hal yang dapat ia pikirkan, misalnya ribuan manusia, kendaraan, pohon, besar dan kecil, dan beragam hal yang terdapat di banyak tempat. Dalam hal ini, pandangan orang yang beriman sudah jelas, yakni bahwa ia berusaha untuk mendapatkan sebanyak mungkin manfaat dari yang ia jumpai di sekelilingnya. Ia memikirkan tentang sebab-sebab dari peristiwa-peristiwa yang ada. Karena apa yang sedang ia saksikan terjadi dengan pengetahuan dan kehendak Allah, maka pasti ada sebuah makna di balik peristiwa atau pemandanga itu. Karena Allah lah yang memampukannya untuk pergi ke luar rumah serta meletakkan semua pemandangan ini di depan matanya, maka sudah pasti dari pemandangan-pemandangan tersebut ada yang mesti dilihat dan dipikirkan. Sejak bangun tidur, ia bersyukur kepada Allah yang telah memberinya umur satu hari lagi di dunia yang dapat digunakannya sebagai modal untuk mendapatkan pahala dari Allah. Kini, ia tengah memulai perjalanan yang dapat mendatangkan pahala baginya. Menyadari hal ini, ia teringat akan firman Allah: "Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan", (QS. An-Naba', 78 :11).
Berpedomankan ayat tersebut, ia membuat rencana tentang bagaimana menghabiskan waktunya di siang hari dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak hanya bermanfaat untuk orang lain akan tetapi juga mendatangkan ridha Allah.
Ketika berada dalam mobilnya atau di atas kendaraan apapun dengan pola pikir yang demikian, ia pun kembali bersyukur kepada Allah. Tidak menjadi masalah, betapapun jauhnya jarak perjalanan yang harus ia tempuh, ia masih memiliki sarana untuk pergi ke sana. Untuk memudahkan manusia, Allah telah menciptakan beragam sarana transportasi untuk membantu manusia dalam melakukan perjalanan. Bahkan kemajuan teknologi saat sekarang telah menyediakan sarana transportasi baru berupa mobil, kereta api, pesawat terbang, kapal laut, helikopter, bus…Ketika merenungkan hal ini, seseorang akan kembali teringat: Allah lah yang telah menciptakan teknologi untuk membantu manusia.
Setiap hari, para ilmuwan membuat penemuan-penemuan dan inovasi-inovasi baru yang dapat memudahkan hidup kita. Mereka menghasilkan ini semua melalui sarana yang diciptakan Allah di bumi. Seseorang yang memikirkan tentang masalah tersebut akan menikmati perjalanannya sambil bersyukur kepada Allah atas kemudahan yang diberikan kepadanya.
Dalam perjalanan menuju tempat tujuan, ia menyaksikan tumpukan sampah dengan bau yang tak sedap, tempat-tempat kumuh di sepanjang jalan. Hal ini menimbulkan beragam pikiran dalam benaknya:
Ketika masih berada di dunia, Allah telah memberikan informasi kepada kita yang membantu kita memperoleh gambaran tentang surga dan neraka; atau mengira-ngira keadaan kedua tempat ini dengan menggunakan perbandingan. Tumpukan sampah, bau yang tidak sedap dan daerah-daerah kumuh dapat menimbulkan stres atau tekanan dalam jiwa seseorang. Tak seorangpun ingin tinggal di tempat tersebut. Keadaan ini mengingatkan seseorang tentang neraka dan ayat-ayat yang mengisahkan neraka. Di banyak ayat-ayat Al-Qur'an Allah telah menceritakan segala sesuatu yang tidak menyenangkan, gelap serta menjijikkan tentang neraka:
Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu?
Dalam (siksaan) angin yang amat panas, dan air panas yang mendidih,
dan dalam naungan asap yang hitam.
Tidak sejuk dan tidak menyenangkan. (QS. Al-Waaqi'ah, 56:41-44)
"Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan. (Akan dikatakan kepada mereka): "Jangan kamu sekalian mengharapkan satu kebinasaan, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak" (QS. Al-Furqaan, 25:13-14)
Dengan memikirkan ayat-ayat di atas, orang tersebut berdoa agar Allah menjauhkannya dari siksa neraka dan mengampuni segala kesalahannya.
Sebaliknya, seseorang yang tidak menggunakan cara berpikir yang demikian akan menghabiskan waktunya dengan menggerutu, kesal dan selalu mencari kambing hitam dari setiap permasalahan. Ia marah sekali kepada orang-orang yang menumpuk sampah tersebut dan pihak pemerintahan daerah setempat yang terlambat untuk mengumpulkan dan membuangnya. Sepanjang hari pikirannya disibukkan dengan hal-hal seperti: jalan raya yang penuh dengan lubang; orang-orang yang menyebabkan lalu lintas macet; badannya yang basah kuyup kehujanan akibat ulah badan meteorologi yang salah dalam memperkirakan cuaca; cemoohan kasar dari bossnya, dan lain sebagainya. Namun, pikiran yang sia-sia ini tidaklah bermanfaat dalam kehidupan akhiratnya nanti. Seseorang mungkin berhenti sejenak kemudian berpikir apakah ia seharusnya menghiraukan banyak hal. Sungguh, banyak orang mengatakan bahwa alasan utama yang mencegah mereka dari berpikir adalah segala kesibukan yang mengharuskan mereka bekerja keras terus-menerus di dunia. Mereka berdalih bahwa mereka tidak mampu berpikir karena sibuk dengan masalah pangan, perumahan dan kesehatan. Akan tetapi ini hanyalah sekedar alasan untuk mengelak. Tanggung jawab dan kondisi tersebut tidak ada hubungannya dengan berpikir sebagaimana yang dikehendaki di sini. Seseorang yang berusaha untuk berpikir dalam rangka mencari ridha Allah akan mendapatkan pertolongan dari Allah. Ia akan melihat bahwa, seiring dengan bergantinya hari, beragam persoalan yang biasanya menjadi masalah baginya satu demi satu terselesaikan; hingga ia dapat meluangkan waktu untuk berpikir dan berpikir lagi. Hanya orang-orang yang beriman sajalah yang sadar, paham dan mengalami hal yang demikian.

  • Bagaimana dunia yang berwarna-warni mendorong seseorang berpikir?

Masih dalam perjalanannya, ia terus berusaha melihat keajaiban dari ayat-ayat ataupun ciptaan Allah di sekitarnya, dan memuji Allah ketika memikirkan ini semua. Ketika melihat ke luar melalui jendela mobilnya, ia menyaksikan dunia yang penuh dengan beragam warna. Lalu ia pun berpikir: "Bagaimana segala sesuatu akan terlihat seandainya dunia ini tidak berwarna?"
Lihatlah gambar-gambar di bawah dan anda pun mulai berpikir. Apakah kenikmatan yang kita rasakan dari memandang laut, pegunungan atau bunga yang tidak berwarna sebanding dengan sebagaimana yang anda lihat sekarang? Apakah pemandangan langit, buah, kupu-kupu, pakaian dan wajah-wajah manusia sebagaimana yang terlihat oleh anda sekarang memberikan kepuasan? Adalah nikmat dari Tuhan bahwa kita hidup di sebuah dunia yang cerah ceria dan memiliki beragam warna. Setiap warna yang kita lihat di alam, keseimbangan yang sempurna dari warna-warna makhluk hidup, semuanya adalah tanda-tanda tentang karya cipta dan seni khas Allah yang tak tertandingi. Beragam warna dari bunga atau burung; dan keharmonisan atau corak yang anggun antara warna-warna yang ada; bahwa tak satupun warna di alam ini yang mengganggu penglihatan kita; warna lautan, langit, pohon-pohon yang demikian serasi sehingga menimbulkan kedamaian dan tidak melelahkan mata kita, semua ini menunjukkan kesempurnaan ciptaan Allah. Dengan merenungkan beberapa fenomena tersebut, seseorang akan paham bahwa setiap sesuatu yang ia lihat di sekelilingnya adalah hasil dari ilmu dan kekuasaan Allah yang tak terbatas dan absolut. Setelah sadar akan segala nikmat yang Allah anugerahkan ini, ia pun menjadi hamba yang takut kepada Allah dan memohon perlindungan kepada-Nya agar tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang tidak bersyukur. Dalam Al-Qur'an, Allah mengisahkan fenomena warna-warna, dan berfirman bahwa hanya mereka yang memiliki pengetahuan, yakni mereka yang menyelami lebih jauh dengan berpikir dan menarik kesimpulan serta pelajaran dari fenomena ini lah yang memiliki rasa takut kepada Allah:
"Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Faathir, 35: 27-28).

  • Bagaimana sebuah mobil jenazah yang melintas di jalan mendorong seseorang untuk berpikir?

Seseorang yang sedang bergegas menuju ke suatu tempat secara tiba-tiba berpapasan dengan mobil jenazah. Sungguh ini adalah kesempatan yang baik untuk berhenti sejenak dan menenangkan diri. Pemandangan yang ia temui mengingatkannya akan kematian. Suatu hari ia juga akan berada di mobil jenazah itu. Tiada keraguan tentang terhadapnya, tak peduli seberapa besar usaha untuk menghindarinya, cepat atau lambat kematian pasti akan datang menghampirinya. Tak peduli apakah ia sedang berada di tempat tidurnya, ketika dalam perjalanan, atau ketika berlibur, ia pasti akan meninggalkan dunia ini. Kematian adalah kenyataan yang tidak dapat dihindari.
Di saat yang demikian, seorang mukmin teringat akan ayat Allah berikut:
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam syurga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya." (QS. Al-Ankabuut, 29: 57-59).
Keyakinan seseorang bahwa jasadnya akan juga dimasukkan dalam peti mati, ditimbun tanah oleh kerabatnya, namanya akan diukir diatas kuburan, akan menghilangkan kecintaannya kepada dunia. Seseorang yang dengan ikhlas dan secara sadar berpikir tentang hal ini paham bahwa tidaklah masuk akal untuk mengklaim kepemilikan tubuh yang suatu hari akan membusuk di dalam tanah.
Dalam ayat di atas, Allah memberikan kabar gembira berupa surga setelah kematian kepada mereka yang sabar dan bertawakal kepada Allah. Oleh karenanya, dengan berpikir bahwa suatu hari ia akan mati, seorang mukmin akan berusaha menjalani hidup dengan akhlaq yang baik sebagaimana yang diperintahkan Allah untuk meraih surga. Setiap saat ia teringat akan dekatnya kematian, tekadnya untuk mendapatkan surga semakin menguat dan mendorongnya untuk senantiasa berusaha bertingkah laku sesuai dengan akhlaqnya yang semakin lama semakin baik.
Sebaliknya, orang-orang yang condong memikirkan hal-hal yang lain, dan menghabiskan hidup dengan angan-angan kosong, tidak berpikir bahwa suatu hari hal yang sama pasti akan menimpa mereka meskipun mereka berpapasan dengan mobil jenazah, setiap hari melewati kuburan atau bahkan salah satu orang yang paling dicintai meninggal dunia di samping mereka sendiri.

  • Di siang hari…

Ketika menyaksikan segala peristiwa yang ditemuinya sepanjang hari, orang beriman selalu berpikir tentang tanda-tanda kebesaran Allah dan berusaha untuk memahami makna-makna yang terkandung dalam peristiwa-peristiwa tersebut.
Ia menanggapi setiap kebaikan ataupun malapetaka sebagai sesuatu yang memiliki kebaikan sebagaimana dikehendaki Allah. Di mana saja ia berada, di sekolah, di tempat kerja ataupun di pasar, dan dengan berprasangka dan berpikir bahwa Allahlah yang menciptakan setiap sesuatu, ia selalu berusaha memahami keindahan-keindahan dan makna tersembunyi di balik peristiwa-peristiwa yang diciptakan-Nya untuk kemudian menjalani hidup dengan mematuhi ayat-ayat Allah. Sikap orang mukmin ini digambarkan dalam Al-Qur'an:
"Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas." (QS. An-Nuur, 24: 37-38)

Rahasia di Balik Materi tidak sama dengan Wahdatul Wujud

Sebuah pokok bahasan yang dipaparkan dalam buku The Evolution Deceit (Keruntuhan Teori Evolusi), bab “The Real Essence of Matter” ("Hakikat Materi yang Sesungguhnya"), juga dalam buku Matter: The Other Name for Illusion (Materi: Nama Lain dari Ilusi); Idealism, The Philosophy of the Matrix and the True Nature of Matter (Idealisme, Filsafat Matriks, dan Sifat-Dasar Materi yang Sebenarnya), Eternity Has Already Begun (Keabadian Telah Dimulai); Timelessness and the Reality of Fate (Ketiadaan Waktu dan Hakikat Takdir) and Knowing the Truth (Memahami Kebenaran) telah dipermasalahkan oleh sejumlah orang. Disebabkan salah memahami inti pokok bahasan tersebut, orang-orang ini mengatakan bahwa apa yang diuraikan dalam rahasia di balik materi adalah sama dengan ajaran Wahdatul Wujud.
Izinkan kami menyatakan di awal bahwa penulis buku ini adalah seorang yang beriman dan memegang teguh ajaran Ahlus Sunnah dan tidak mendukung pandangan Wahdatul Wujud.
Akan tetapi, patut diingat bahwa Wahdatul Wujud pernah didukung oleh sejumlah ulama Islam terkemuka termasuk Muhyiddin Ibnu 'Arabi. Adalah benar bahwa banyak ulama Islam terkemuka yang menjelaskan gagasan tentang Wahdatul Wujud di masa lampau melakukannya dengan menggunakan sejumlah pokok bahasan yang terdapat dalam buku-buku penulis. Namun, apa yang diuraikan dalam buku-buku tersebut tidaklah sama dengan Wahdatul Wujud.
Sebagian dari mereka yang mendukung pandangan Wahdatul Wujud tenggelam dalam sejumlah pandangan keliru dan membuat sejumlah pernyataan yang bertentangan dengan Al Qur'an serta ajaran Ahlus Sunnah. Misalnya, mereka sama sekali menolak penciptaan oleh Allah. Namun, ketika pokok bahasan rahasia di balik materi dikemukakan, tidak ada sama sekali pernyataan serupa. Bab ini menjelaskan bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Allah, dan wujud asli segala sesuatu ini terlihat olehNya sedangkan manusia hanya melihat bayangan atau penampakan segala sesuatu ini yang terbentuk dalam otak mereka.
Gunung, dataran, bunga, manusia, lautan -- singkatnya segala sesuatu yang kita saksikan dan segala sesuatu yang Allah beritakan kepada kita dalam Al Qur'an sebagai wujud yang ada dan yang Dia ciptakan dari ketiadaan, adalah diciptakan dan benar-benar ada. Akan tetapi, manusia tidak dapat melihat, merasakan atau mendengarkan sifat-dasar hakiki dari segala ciptaan ini melalui indra mereka. Apa yang mereka lihat dan rasakan hanyalah salinan dari apa yang muncul dalam otak mereka. Ini adalah fakta ilmiah yang diajarkan di seluruh sekolah kedokteran. Hal yang sama berlaku pula dengan tulisan yang kini sedang Anda baca; Anda tidak dapat melihat atau menyentuh sifat-dasar atau wujud sesungguhnya dari tulisan ini. Cahaya yang datang dari tulisan asli diubah oleh sejumlah sel-sel pada mata Anda menjadi sinyal-sinyal listrik, yang kemudian dibawa dan diteruskan ke pusat penglihatan di bagian belakang otak Anda. Di sinilah penampakan tulisan ini terbentuk. Dengan kata lain, Anda tidak sedang membaca sebuah tulisan di depan mata Anda melalui mata Anda; kenyataan yang sesungguhnya adalah tulisan ini terbentuk di dalam pusat penglihatan di bagian belakang otak Anda. Tulisan yang sedang Anda baca sekarang adalah "salinan tulisan" di dalam otak Anda. Tulisan yang asli terlihat oleh Allah.
Kesimpulannya, fakta bahwa materi (benda) adalah sebuah ilusi (bayangan/penampakan) yang terbentuk di dalam otak kita bukan berarti "menolak" keberadaan materi, akan tetapi justru memberi kita pengetahuan tentang sifat-dasar sesungguhnya tentang materi: bahwa tak seorang pun mampu berhubungan langsung dengan wujud asli materi.
Fakta ini dipaparkan dalam buku Idealism, The Philosophy of the Matrix, and the True Nature of Matter (Idealisme, Filsafat Matriks, dan Sifat-Dasar Materi yang Sebenarnya) sebagaimana berikut:
TERDAPAT MATERI (BENDA) DI LUAR KITA, TAPI KITA TIDAK DAPAT MENGGAPAINYA
… [M]engatakan bahwa materi adalah sebuah ilusi (bayangan) bukan berarti bahwa materi tidak ada. Justru sebaliknya: apakah kita merasakannya atau tidak, dunia fisik benar-benar ada. Akan tetapi kita menyaksikannya sebagai sebuah salinan di dalam otak kita, dengan kata lain, sebagai sebuah penafsiran dari indra kita. Karenanya, bagi kita, dunia fisik dari materi adalah sebuah ilusi (bayangan).
Materi di luar terlihat tak hanya oleh kita, tapi oleh makhluk lain pula. Para malaikat Allah yang ditugaskan sebagai pengawas menyaksikan dunia ini juga:
(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. Qaaf, 50: 17-18)
Yang terpenting, Allah menyaksikan segala sesuatu. Dia menciptakan dunia ini dengan seluruh rinciannya dan melihatnya dalam berbagai wujudnya. Sebagaimana Dia beritahukan kepada kita dalam Al Qur'an:
…Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Baqarah, 2: 233)
Katakanlah: "Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu sekalian. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hambaNya". (QS Al Israa', 17: 96)
Tidak boleh dilupakan bahwa Allah menyimpan catatan segala sesuatu dalam kitab yang disebut Lauh Mahfuzh (Kitab Yang Terpelihara). Sekalipun jika kita tidak melihat segala sesuatu, semua itu ada dalam Lauh Mahfuzh. Allah mewahyukan bahwa Dia menyimpan catatan segala sesuatu dalam "Induk Al Kitab" yang dinamakan Lauh Mahfuzh dalam ayat-ayat berikut:
Dan sesungguhnya Al Qur'an itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah. (QS. Az Zukhruf, 43: 4)
… dan pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara (mencatat). (QS. Qaaf, 50: 4)
Tiada sesuatu pun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. An Naml, 27: 75)

© Harun Yahya Internasional 2004.
Hak Cipta Terpelihara. Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan dengan mencantumkan sumber situs web ini
info@harunyahya.com

Venus dan Sundew: Ahli Penangkap Serangga

Dunia yang kita huni dipenuhi oleh kehidupan yang dilengkapi dengan sistem yang sempurna dan mengagumkan. Beragam makhluk hidup yang menakjubkan, dari burung hingga tumbuhan, dan dari ikan hingga serangga, yang kesemuanya tidak memiliki kecerdasan ataupun akal - dan terkadang bahkan tidak memiliki otak - senantiasa membuat kita kagum dengan perilaku cerdas dan sempurna yang mereka perlihatkan. Kebanyakan perilaku ini menjadikan manusia berdecak kagum dan terheran-heran. Manusia, dengan segala ilmu dan pengetahuannya bahkan tidak mampu memahami sebagian perilaku ini, apalagi menirunya. Di bawah ini, kita akan menyaksikan dua diantara beragam tumbuhan yang memiliki desain dan keahlian yang jauh melebihi apa yang dimiliki manusia.
  • Venus, Menggenggam Lebih Cepat dari Jari Jemari Manusia

Selain binatang pemangsa yang sering kita saksikan, ternyata terdapat pula sejumlah tumbuhan yang juga "berburu" dengan kemampuan menangkap mangsa yang sungguh mengagumkan. Salah satunya adalah tumbuhan pemangsa serangga yang bernama Venus. Tumbuhan ini memiliki sistem perangkap untuk menjebak, menangkap dan memakan serangga yang hinggap padanya.
Tumbuhan ini menarik perhatian serangga dengan warna merah daunnya yang menawan. Kendatipun ciri mengagumkan ini ada padanya, ia sendiri sama sekali tak menyadari akan hal ini. Serangga tergoda oleh aroma sedap yang dihasilkan kelenjar-kelenjar di sekeliling dedaunan tumbuhan Venus. Ia lantas terbang mendekat dan kemudian hinggap di atas tumbuhan tanpa rasa curiga sedikitpun akan bahaya yang mengintainya. Di saat bergerak ke sumber "makanan", ia menyentuh rambut-rambut yang seolah tampak tidak berbahaya pada permukaan tumbuhan tersebut.
Ketika merasakan sentuhan serangga yang menghampirinya, tumbuhan ini dengan segera bergerak melipat dan menutup rapat daun-daunnya. Gerakan ini membuat serangga terperangkap dan terjepit di antara daun-daun tersebut. Daun-daun ini mengapit semakin lama semakin erat akibat kepakan sayap serangga yang menyentuh rambut secara berulang-ulang. Tumbuhan ini kemudian mengeluarkan cairan "penghancur dan pelarut daging" pada tubuh serangga. Dalam waktu singkat, ia melumatkan mangsanya hingga menjadi seperti bubur dan kemudian memakan hidangan yang lezat ini.
Tumbuhan Venus memiliki kemampuan menutup daun-daunnya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Lebih cepat dibandingkan dengan gerakan tercepat menutupnya jari-jemari tangan manusia. Buktinya, seringkali manusia tak mampu menangkap seekor lalat yang hinggap pada telapak tangannya, tapi tumbuhan Venus melakukannya dengan mudah. Yang menarik untuk diketahui adalah bagaimana tumbuhan yang tidak memiliki otot atau kerangka ini mampu melakukan gerakan yang sangat cepat tersebut?
Terdapat sistem elektrik yang sangat rumit pada tumbuhan Venus. Rangsangan yang diakibatkan oleh sentuhan tubuh serangga pada rambut-rambut Venus diteruskan ke reseptor (sistem penerima rangsangan) di bawah rambut-rambut tumbuhan tersebut. Reseptor lalu meneruskan rangsangan ini dalam bentuk signal-signal listrik ke sel-sel motorik yang menyebabkan daun-daun Venus melakukan gerakan cepat dan mendadak. Terakhir, mekanisme tersebut diaktifkan terus-menerus untuk menahan serangga agar tidak lepas.
Apa yang terjadi di tingkat sel motorik? Segera setelah sel-sel motorik ini menerima rangsangan listrik, mereka merubah konsentrasi air dalam tubuh mereka. Sel-sel di bagian dalam alat perangkap mengeluarkan air dari tubuhnya dan kemudian menyusut. Fenomena ini mirip balon yang mengempis dan mengeluarkan udara. Sebaliknya, sel-sel di bagian luar alat perangkap menyerap kelebihan air dan mengembang. Proses ini terjadi secara cepat sehingga tumbuhan tersebut menutup daun-daunnya dengan kecepatan sangat tinggi.
Di samping itu, kelenjar pencernaan pada alat perangkap juga turut diaktifkan. Akibat rangsangan, kelenjar ini mulai mengeluarkan cairan untuk melumatkan dan melarutkan tubuh serangga secara perlahan-lahan. Meskipun sangat ampuh untuk melarutkan protein, cairan kimia ini tidak membahayakan daun-daun tumbuhan Venus itu sendiri. Dengan cara ini, tumbuhan Venus menyantap bubur mangsanya yang telah berubah menjadi semangkok sup kaya protein.
Seusai menyantap makanan, mekanisme yang sebelumnya menggerakkan alat perangkap Venus supaya menutup, kini bekerja sebaliknya untuk membukanya. Untuk mengaktifkan perangkap, rambut-rambut Venus harus disentuh dua kali berturut-turut. Dengan mekanisme aksi ganda ini, tumbuhan Venus tidak pernah menutup dengan sia-sia tanpa tujuan yang jelas. Misalnya, perangkap tidak akan menjadi aktif dan menutup ketika setetes air hujan jatuh mengenainya.
Di sini, yang sangat penting untuk diketahui adalah bahwa Venus, si pemburu yang ahli ini, tidak memiliki otak atau organ tubuh semisalnya, sehingga ia tidak mampu berpikir. Sungguh, Venus tidak menyadari kemampuannya yang luar biasa, yang menjadikannya mampu berburu serangga yang dapat terbang dengan cepat. Semua ini memperlihatkan adanya sistem perangkap, penangkapan dan penghancuran tubuh serangga dengan ketepatan yang sangat akurat, teknik dan desain sempurna pada bagian-bagiannya yang terkecil sekalipun.
Tak perlu dipertanyakan lagi, asal-usul desain semacam ini tak mungkin dijelaskan sebagai sesuatu yang terjadi dengan sendirinya, secara kebetulan atau sekedar fenomena alam biasa. Jelas bahwa Pencipta Maha Agung yang mengatur seluruh alam inilah yang memberi tumbuhan Venus kemampuan luar biasa. Inilah ciptaan Allah yang tiada bandingnya. Dalam sebuah ayat Alqur'an, dinyatakan:
Dan berapa banyak binatang yang tidak dapat membawa rizkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Ankabuut, 29:60)
  • Sundew, Memiliki Lem Paling Kuat di Dunia

Tumbuhan sundew asal Afrika Selatan tumbuh di tanah yang tandus. Sundew bahkan dapat hidup di areal semi-gurun pasir. Ia diciptakan dengan kemampuan berburu yang sangat menarik, yang memungkinkan tumbuhan ini mendapatkan sari makanan yang tidak mungkin didapatnya dari tanah dengan cara lain. Daun-daun tumbuhan Sundew berbentuk seperti batang pipih yang memanjang dan dipenuhi rambut merah panjang. Ujung rambut-rambutnya dilapisi oleh cairan yang sangat kental dengan bau khas yang menarik perhatian serangga.
Seekor serangga yang pergi menuju sumber bau tersebut dan kemudian hinggap pada tumbuhan Sundew, akan menempel lengket pada rambutnya dan berusaha melepaskan diri dari salah satu perekat paling kuat di dunia ini. Di saat serangga berjuang untuk melepaskan diri, daun panjang Sundew bergerak melipat ke bawah untuk menggenggam serangga lebih erat. Segera setelah tumbuhan menjepit mangsanya, ia mencerna serangga perlahan-lahan dan memperoleh protein esensial bagi tubuhnya. Setelah mencerna seluruh bagian serangga yang dapat dimakan, tumbuhan sundew membuka dan memasang perangkapnya lagi. Sungguh menarik bahwa perekat kuat tersebut mampu menahan serangga agar tidak lepas. Dan pada saat yang sama, perekat ini sama sekali tidak menjadikan rambut-rambut tersebut saling menempel sedemikian erat hingga menghambat gerakan tumbuhan Sundew.
Tumbuhan yang tak dapat bergerak dari tempatnya, tapi dilengkapi dengan kemampuan memperoleh makanan yang mengagumkan ini adalah bukti nyata adanya penciptaan secara khusus dan sengaja. Sistem yang merupakan cerminan dari Ilmu Allah Yang Maha Luas tersebut tak mungkin dijelaskan melalui peristiwa kebetulan. Tak seorang pun yang berakal akan berpikir bahwa sang tumbuhan Sundew sendirilah yang menemukan sistemnya yang canggih. Oleh karena itu, keberadaan dan keluasan Ilmu sang Pencipta, Yang memberi kemampuan ini pada tumbuhan Sundew, sangatlah jelas. Semua tumbuhan mendapatkan makanan melalui sistem yang diciptakan secara khusus oleh Allah untuk mereka. Allah berfirman:
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata. (QS. Huud, 11:6)

Upaya Keras Paul Davies untuk Mendukung Teori “Multiverse” (Jagat Raya Jamak)

  • Dalam terbitannya tanggal 12 April 2003, The New York Times memuat tulisan ahli astrofisika terkenal Paul Davies berjudul “A Brief History of the Multiverse” [“Sejarah Singkat Teori Multiverse (Jagat Raya Jamak)”]. Dalam tulisan ini, Prof. Davies berupaya mempertahankan pernyataan bahwa terdapat kemungkinan adanya jagat raya berjumlah tak hingga, dan jagat raya kita telah secara kebetulan menjadi cocok bagi adanya kehidupan. Ini adalah pernyataan terbaru yang telah digunakan kalangan pemikir materialis untuk mengelak ketika mendapati adanya perancangan sangat cermat dan sempurna di alam semesta.

Kami pertama-tama perlu menjelaskan mengapa para materialis membuat pernyataan seperti ini: selama ribuan tahun, agama-agama samawi dan berbagai filsafat yang mengakui keberadaan Tuhan menyatakan bahwa terdapat tujuan dan perancangan di alam semesta. Sebaliknya, kaum materialis – yakni mereka yang menyatakan bahwa tidak ada sesuatu pun selain materi – telah menolak adanya tujuan dan perancangan. Namun, serangkaian penemuan di bidang astronomi dan fisika di abad ke-20 mengungkapkan bahwa perancangan di jagat raya sungguh jelas sehingga tak mungkin dapat diingkari. Berbagai penemuan ini mengungkapkan bahwa di saat awal terbentuknya jagat raya, seluruh variabel, dari kecepatan ledakan Big Bang hingga kekuatan empat gaya fundamental, dari struktur unsur-unsur hingga struktur Tata Surya yang kita huni, benar-benar sesuai untuk menyangga kehidupan. Penemuan besar ini, yang oleh para ilmuwan di tahun 1970-an diumumkan dan dipaparkan sebagai the Prinsip Anthropik (yang menyatakan bahwa jagat raya secara khusus telah dirancang agar sesuai untuk kelangsungan hidup manusia), secara jelas menggugurkan pendapat kaum materialis tentang ketiadaan perancangan.
Dalam tulisannya yang dimuat The New York Times, Paul Davies merangkum fakta ini dan mengakui kesimpulan tak terelakkan tentang keberadaan Tuhan:
Mengapa alam ini begitu cerdas – bahkan mungkin ada yang berkata dengan curiga – begitu bersahabat dengan kehidupan? Mengapa hukum-hukum fisika begitu penduli terhadap kehidupan dan kesadaran sehingga hukum-hukum ini bersekongkol untuk membuat jagat raya yang nyaman dihuni? Ini hampir seolah Perancang Maha Hebat telah melakukan semuanya.
Akan tetapi, meskipun menganggap perancangan di jagat raya sebagai bukti keberadaan Tuhan, Prof. Davies mengingkari kenyataan ini. Agar dapat menjelaskan asal-usul perancangan di jagat raya, ia terpaksa menggunakan teori multiverse (jagat raya jamak), sebagai pilihan terakhir kalangan materialis, sebagaimana telah kita pahami.
  • Teori Multiverse (Jagat Raya Jamak)

Menurut teori ini, jagat raya (universe) yang kita tempati mungkin hanyalah satu dari sekian banyak jagat raya (universes) berjumlah tak hingga yang membentuk sebuah “jagat raya jamak” yang jauh lebih besar lagi yang dinamakan “multiverse” (=kumpulan dari banyak “universe”, multi=banyak/jamak, uni=satu/tunggal). Dalam pandangan kalangan materialis, sangatlah biasa jika ada satu atau beberapa dari jagat raya berjumlah banyak tersebut yang cocok bagi kehidupan.
Namun, adakah satu bukti ilmiah pun yang mendukung teori ini?
Tidak. Tidak ada sama sekali. Ini tak lebih dari sekedar rekaan.
Yang menarik dari tulisan Prof. Davies adalah ia berusaha memberi kesan seolah-olah benar-benar ada cukup banyak bukti penting yang mendukung teori multiverse. Terdapat keterangan singkat pada surat kabar tersebut yang merangkum tulisannya, dan diarahkan untuk memunculkan kesan tersebut:
“Gagasan tentang jagat raya jamak, atau realitas jamak, telah ada selama berabad-abad. Akan tetapi, pembenaran ilmiah yang mendukungnya adalah hal yang baru.”
Siapa pun yang memahami kalimat pendahuluan ini tanpa membaca keseluruhan tulisan tersebut akan benar-benar mendapatkan kesan bahwa teori multiverse didasarkan pada bukti ilmiah nyata dan bahwa Prof. Davies akan memaparkan bukti-bukti ini di dalam tulisannya. Namun sebaliknya, bukti seperti itu tak pernah ada, dan nyatanya penulis tidak menyebutkan sepatah kata pun tentang bukti ilmiah baru ini, yang pastilah akan dibicarakannya dengan penuh percaya diri jika memang ada.
Sebaliknya, terdapat sejumlah pengakuan dalam tulisan Prof. Davies bahwa teori multiverse hanyalah reka-reka saja. Menurut Prof. Davies, teori multiverse telah dirumuskan “dengan cara berimajinasi.” Terlebih lagi, berkenaan dengan teori ini ia mengatakan bahwa “tingkat kebenarannya mencapai suatu batas” dan teori ini “semakin lama semakin wajib diterima berdasarkan keyakinan.”
Singkatnya, ketertarikan Prof. Davies dan semua kalangan materialis lainnya terhadap teori multiverse lebih disebabkan kecenderungan pribadi daripada keberadaan bukti ilmiahnya. Titik awal yang memunculkan kecenderungan pribadi ini adalah keengganannya untuk menerima bahwa jagat raya adalah karya Pencipta. Paul Davies menyatakan fakta ini dalam tulisannya. Ia mengatakan bahwa penjelasan apa pun yang didasarkan pada perkataan “Tuhan menjadikannya demikian” tidaklah “memuaskan” bagi seorang ilmuwan.
Tujuan Ilmu Pengetahuan Materialistik
Permasalahan tentang “kepuasan” atau “ketidakpuasan” sebenarnya menjadi titik tolak ilmu pengetahuan materialistik. Pandangan ilmu pengetahuan ini menjadikan pengingkaran akan keberadaan Tuhan dalam menjelaskan alam kehidupan dan jagat raya sebagai tujuan. Sebagaimana dijelaskan Benjamin Wiker dengan sangat rinci dalam bukunya yang penting Moral Darwinism: How We Became Hedonists (Darwinisme Moral: Bagaimana Kita Menjadi Para Pencari Kenikmatan Dunia), niatan ini selalu berada di belakang upaya untuk membangun suatu ilmu pengetahuan yang mengabaikan keberadaan Tuhan, yang telah ada sejak Epicurus hingga Charles Darwin, dan kalangan materialis zaman sekarang. Kaum materialis berupaya mati-matian membangun dan membuktikan berbagai teori yang mengingkari keberadaan Tuhan, bukan karena ilmu pengetahuan menghendaki demikian, akan tetapi karena pola pikir dan filsafat mereka yang menghendakinya.
Sebaliknya, ilmu pengetahuan sendiri malah secara kuat selalu mengungkap kebenaran yang terus-menerus berusaha diabaikan kaum materialis: yakni bahwa jagat raya penuh dengan bukti keberadaan Pencipta. Dia-lah yang menciptakannya dari ketiadaan, dan merancang seluruh isinya dengan sangat mengagumkan.
  • Bukti-Bukti Keberadaan Allah

Teori multiverse (jagat raya jamak) adalah satu di antara sejumlah teori yang dikemukakan dalam rangka menolak kebenaran tersebut. Teori ini pun sama sekali tidak memiliki landasan ilmiah. Ketiadaan bukti ilmiah apa pun yang mendukung teori ini, sebagaimana diakui Prof. Davies sendiri, menjadikan teori tersebut sebatas pada keyakinan belaka. Keyakinan yang tak memiliki bukti ilmiah. Tambahan lagi, sungguh memperdayakan jika kaum materialis membuat pernyataan seperti: “Anda percaya bahwa Tuhan menciptakan jagat raya, kami percaya pada keberadaan banyak jagat raya,” dengan kata lain mereka menganggap keduanya memiliki semacam kesamaan. Hal ini dikarenakan:
1) Penjelasan masuk akal atas adanya perancangan di jagat raya adalah keberadaan sang perancang cerdas. Ketika Anda melihat sebuah patung, Anda yakin bahwa pastilah terdapat seorang ahli patung. Bantahan seperti “Karena terdapat bebatuan berjumlah tak hingga di jagat raya, maka yang satu ini terbentuk begitu saja dengan sendirinya secara kebetulan,” sudah tentu sangat tidak masuk akal. Sejalan dengan kaidah logika yang dinamakan pisau cukur Occam – yang menyatakan bahwa penjelasan yang paling jelas dan langsung tentang suatu permasalahan wajiblah diterima – maka asal-usul kesempurnaan dan kecermatan perhitungan dan pengaturan di jagat raya wajib dijelaskan dengan istilah perancangan (desain) dan bukan kebetulan. (Lebih lengkapnya, silakan membaca The Creation of the Universe karya Harun Yahya)
2) Terdapat jauh lebih banyak bukti ilmiah keberadaan Tuhan daripada sekedar kecermatan sempurna pengaturan jagat raya. Sebagaimana para materialis lainnya, Paul Davies yakin bahwa Darwinisme telah memecahkan permasalahan seputar asal-usul makhluk hidup, atau paling tidak ia menghibur diri sendiri dengan teori tersebut. Namun kenyataannya kini Darwinisme adalah sebuah teori yang telah diragukan kebenarannya, dan kini telah dibuktikan dengan kuat bahwa terdapat perancangan cerdas pada peristiwa kemunculan makhluk hidup. Ini adalah pembuktian ilmiah atas fakta bahwa selain menciptakan jagat raya dengan keseimbangan dan perancangan tanpa cacat, Tuhan juga turut campur mengatur jagat raya yang telah diciptakan-Nya (Selengkapnya, silakan membaca Darwinism Refuted karya Harun Yahya.)
3) Terdapat banyak bukti bagi keberadaan Tuhan di luar bidang ilmu pengetahuan positif. Penemuan-penemuan di banyak bidang seperti psikologi manusia, bukti keberadaan ruh manusia, naskah-naskah kitab suci, dan informasi menakjubkan dalam Al Qur’an, Kitab Suci terakhir, membuktikan keberadaan Tuhan serta fakta bahwa Dia menciptakan manusia dan menunjukkannya ke jalan yang benar melalui agama. (silakan membaca tulisan Harun Yahya berjudul "The Fall of Atheism")
Di sisi lain, kalangan materialis tak mampu menemukan penjelasan lain ketika menghadapi bukti-bukti yang semakin menguat dan bertambah banyak yang menentang mereka. Yang hanya mampu mereka lakukan tak lebih hanyalah menelorkan teori-teori baru hasil rekaan. Persis sebagaimana Paul Davies, yang memulai dengan mengatakan tentang “bukti baru yang mendukung teori multiverse (jagat raya jamak)”, namun tanpa menyebutkan satu pun tentang bukti baru tersebut.
Apa yang sepatutnya dilakukan oleh Prof. Davies adalah mengkaji ulang penemuan–penemuan ilmiah seputar asal-usul jagat raya. Namun ia hendaknya melakukannya bukan dengan berharap menemukan kesimpulan “memuaskan” dari sudut pandang keyakinan materialis, akan tetapi dalam rangka menemukan kebenaran hakiki. Dengan demikian ia berkemungkinan memahami kebenaran penciptaan, yang sudah sedemikian sering terpampang di pelupuk matanya, dan akhirnya memahami keberadaan Tuhan, Pencipta dirinya sendiri dan Pencipta seluruh manusia.

Unta: Hewan Yang Khidmat Kepada Umat Manusia

Oleh Harun Yahya

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang memberi peringatan. (QS. 88:17-21)


Tak diragukan lagi bahwa seluruh makhluk hidup ??itu menunjukkan Kekuasaan dan Ilmu Sang Maha Pencipta-nya. Fakta ini diungkapkan di beberapa ayat suci Al-Quran, yang senantiasa menekankan bahwa segalanya yang diciptakan oleh Allah hakikatnya adalah bukti keimanan dan pelajaran untuk mengingatkan umat manusia.

Ayat ke 17 surat Al-Gashiyyah yang berbunyi “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan?”, menyebutkan seekor binatang yang harus kita amati dan pikirkan secara seksama, yaitu unta. Dalam artikel kali ini, kita akan mempelajari hewan ini yang mana Al-Quran telah mengajak kita untuk mengamatinya.
Karakteristik khusus eksklusif yang dimiliki unta adalah struktur tubuhnya yang tidak terpengaruh meskipun hidup di tengah kondisi yang palis keras. Tubuhnya mempunyai kelebihan di mana selama berhari-hari, unta dapat hidup tanpa air dan makanan dan bahkan dapat mengadakan perjalanan dengan mengemban beban ratusan kilogram di punggungnya. Beberapa karakteristik unta membuktikan bahwa binatang ini memang diciptakan untuk kondisi iklim yang kering dan ditugaskan untuk membantu untuk kenyamanan manusia. Dalam Al-Quran surat Yunus disebutkan: “Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. 10:6)”.
Unta telah ‘didisain’ secara khusus untuk kondisi padang pasir. Pada hakikatnya, setiap bagian tubuh unta harus diinvestigasi untuk dapat memahami bagaimana untak diciptakan oleh Allah.


Kaki untuk segala jenis tanah; kakinya memiliki dua jari yang saling terkait dengan bantalan yang fleksible. Struktur yang terdiri dari empat bulatan tebal ini memungkinkan kakinya untuk bertahan dengan kuat pada tanah. Kaki-kaki ini benar-benar sesuai untuk segela jenis kondisi tanah. Kuku-kukunya melindungi tapak kaki dari kerusakan yang mungkin terjadi akibat pukulan. Lututnya dilindungi oleh suatu struktur yang disebut “callus”, yang terdiri dari kulit yang sangat keras dan tebal seperti tanduk. Ketika untak duduk di atas pasir yang panas, struktur callus ini melindunginya dari kerusakan akibat pasir yang sangat panas.

Ponok sebagai persediaan makanan; ponok unta banyak berisi lemak dan menyediakan zat makanan secara periodik pada saat kelaparan. Dengan sistim ini, unta dapat hidup selama 3 minggu tanpa air, sementara ia kehilangan 33% berat tubuhnya. Dalam keadaan keras yang sama, manusia akan kehilangan 8% berat tubuhnya namun mati dalam waktu 36 jam. Karena manusia telah kehabisan air dalam tubuhnya.
Bulu penyekat panas; bulu unta ini terdiri dari rambut tebal dan bulu kempa yang tidak hanya melindungi tubuhnya dari kondisi cuaca dindin dan panas, namun juga menghindari kehilangan air tubuhnya. Unta dapat menahan peluh keringat tubuhnya dengan cara menaikkan suhu tubuhnya hingga 41?C, sehingga menghindari kehilangan air tubuh. Dengan bulu tebalnya, unta di benua Asia dapat bertahan hidup di suhu tinggi yang hingga +51?C di musim panas dan turun hingga -51?C di musim dingin.
Kepala yang terlindungi dari pasir; bulu mata unta berbentuk dua sisir terpisah yang saling melekat. Dalam keadaan bahaya, bulu matanya secara otomatis menutup. Dengan bentuk spesial semacam ini, meskipun sebutir pasir kecil tidak akan dapat masuk ke dalam matanya. Hidung dan telinganyapun ditutupi oleh rambut yang panjang untuk perlindungan dari debu dan pasir. Lehernya yang panjang memungkinkannya untuk meraih dan makan dedaunan yang tingginya 3 meter dari tanah.
Selahin kelebihan di atas, unta juga mempunyai sistim khusus dalam tubuhnya. Sebenarnya masing-masing dari kelebihannya ini memberikannya kemampuan dalam kondisi keras padang pasir. Kelebihan-kelebihannya ini dapat dikategorikan sbb:
Ketahanan dari lapar dan dahaga
Unta dapat hidup tanap makan dan air selama 8 hari di bawah suhu 50?C. Selama periode ini, unta kehilangan 22% berat tubuhnya. Namun ia dapat bertahan hidup meskipun kehilangan 40% air dalam tubuhnya, sementara itu kehilangan 12% saja dapat menyebabkan kematian manusia. Sebab ketahanannya yang lain terhadap kehausan adalah suatu mekanisme yang memungkinkan unta untuk meningkatkan suhu internal tubuhnya hingga 41?C. Berkat kelebihannya ini, unta dapat menahan kehilangan air pada tingkat minimal dalam iklim yang sangat panas di padang pasir. Unta juga dapat menurunkan temperatur internal tubuhnya hingga 30?C di tengah malam yang dingin di padang pasir.
Unit pemanfaatan air yang canggih
Unta dapat mengkonsumsi 130 liter air hampir dalam waktu 10 menit. Jumlah ini kira-kira sepertiga dari berat tubuhnya. Selain itu, unta juga memiliki sebuah struktur mucus (ingus) di hidungnya yang 100 kali lebih besar luasnya dari punya manusia. Setiap kali unta bernapas, udara dilembabkan oleh ingus. Ketika kita bernapas, kita kehilangan 16 mg uap air untuk setiap liter udara. Namun dengan struktur mucusnya, unta dapat memanfaatkan kelembaban udara dengan perbandingan 66%.
Mengambil manfaat maksimal dari makanan dan air
Kebanyakan binatang mati ketika urea yang terkumpul dalam tubuhnya masuk ke dalam sistim sirkulasi darah. Namun unta menggunakan urea yang diproduksi dlam tubuhnya ini, dengan menyaringnya melalui hati secara kontinyu. Akibatnya, unta memanfaatkannya sebagai sumber protein dan air. Baik darah maupun struktur sel unta dapat menjadikannya mampu bertahan hidup dalam jangka waktu yang panjang.
Ponok merupakan pembantu yang lain bagi unta. Seperlima bagian dari tubuhnya disimpan sebagai lemak dalam ponoknya. Penyimpanan lemak tubuh dalam satu bagian tubuh unta, dapat menghindarkannya dari kehilangan air dari seluruh tubuhnya. Ini menjadikan tubuhnya memakai jumlah seminum mungkin air. Meskipun seekor unta dapat makan 30-50 kg makanan dalam satu hari, ia dapat hidup 1 bulan hanya dengan 2 kg rumput.
Selain itu, unta memiliki bibir yang sangat kuat seperti karet yang menjadikannya mudah untuk memakan duri yang cukup tajam menembus kulit. Lebih lanjut, ia mempunyai sistim pencernakan yang kuat sehingga unta dapat makan apa saja yang ia dapati seperti piring platik, kapel tembaga dan buluh. Perutnya yang terbagi dalam empat ruangan sudah terbiasa dengan segalanya, meskipun selain makanan. Jelas sudah bagaimana kelebihannya ini dapat bermanfaat di kondisi iklim begitu kering.
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (QS. 31:20)
Sekarang marilah kita merenungkannya berkaitan dengan informasi di atas: Apakah unta menyesuaikan tubuhnya sendiri terhadap kondisi padang pasir dengan sendirinya? Apakah ia sendiri membentuk ingus hidungnya dan ponok di punggungnya? Atau apakah unta membentuk hidung dan struktur matanya sendiri dengan perlindungan dari angin puyuh dan badai padang pasir? Apakah unta menyusun darah dan struktur selnya sendiri berdasar atas prinsip untuk menghindari membuang air? Apakah juga unta memilih jenis bulu untuk menutupi tubuhnya? Apakah unta merubah dirinya menjadi ‘kapal padang pasir’ dengan sendirinya?
Sebagaimana makhluk hidup yang lain, unta pastilah tidak dapat membuat kelebihan-kelebihan di atas dengan sendirinya. Lebih lanjut, unta tida dapat menjadikan dirinya sendiri memberikan manfaat bagi umat manusia. Ayat Al-Quran yang menyebutkan “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan?” menjelaskan ciptaan hewan yang luar biasa ini dengan cara yang terbaik. Seperti makhluk lain, unta juga diciptakan dengan beberapa karakteristik dan kemudian ditempatkan di muka bumi sebagai suatu tanda kesempurnaa Pencipta Alam Semesta ini.

Sementara unta diciptakan dengan kelebihan fisik yang superior, ia telah diberikan bagi kepentingan umat manusia. Pada sisi lain, umat manusia diberikan tanggungjawab untuk melihat keajaiban ciptaan di seluruh alam semesta ini dan ma’rifat Sang Pencipta seluruh makhluk, Allah SWT…

Teori Evolusi, Jembatan Menuju Atheisme

Melalui serangkai pembuktian ilmiah para pakar, buku-buku Harun Yahya menunjukkan pada dunia, teori evolusi ternyata cuma angan-angan kosong Darwin dan para pengikutnya. Lebih dari itu, teori Darwin telah menginspirasikan terjadinya peperangan dan pembantaian bermotif rasisme dan fasisme sebagaimana yang dilakukan Hitler dan Mussolini.
Anda punya hubungan kekerabatan dengan kera? Atau Anda punya nenek moyang yang sama dengan gorila? Anda yang mengimani Al-Quran pasti akan berkata tegas, "Tidak!" Karena Allah melalui kitab suci-Nya telah menjelaskan bahwa setiap manusia di muka bumi adalah keturunan manusia pertama yang bernama Adam 'alaihi salam. Dan Adam tidak memiliki hubungan kekerabatan apapun dengan kera serta hewan manapun. Ia adalah manusia pertama yang langsung diciptakan oleh Allah. Adam tidak memiliki ayah, ibu serta saudara. Yang ia miliki hanyalah istri, anak dan keturunannya.
Tetapi mereka yang 'mengimani' teori evolusi percaya bahwa mereka punya hubungan kekerabatan dengan kera, beruk, simpanse, gorila dan orangutan. Bahkan kalangan itu juga percaya bahwa mereka berkerabat dengan anjing, tikus, kecoak, cacing, pohon nangka, rumput, jamur dan bakteri. Dan semuanya itu merupakan keturunan dari makhluk bersel satu semacam amuba dan protozoa.
Bicara tentang evolusi tidak akan lepas dari peran seorang petualang asal Inggris bernama Charles Robert Darwin (1809-1892). Oleh banyak evolusionis (penganut teori evolusi), Darwin dianggap sebagai Bapak Evolusi. Meski sesungguhnya kepercayaan bahwa satu spesies merupakan keturunan spesies lain sudah dikemukakan oleh ilmuwan-ilmuwan lain sebelumnya, seperti biologi Perancis Jean Baptiste Lamarck. Bahkan kepercayaan semacam itu diketahui sudah ada sejak jaman purba. Bangsa Sumeria yang hidup beberapa alaf (milenium) silam di Mesopotamia diketahui memiliki kepercayaan tentang proses terciptanya dewa mereka yang muncul tiba-tiba dari banjir besar yang kemudian berevolusi menjadi alam semesta dan makhluk hidup di dalamnya.
Sebagai tokoh evolusi Darwin tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang biologi, tetapi ia memiliki ketertarikan yang besar pada alam dan makhluk hidup. Minat itu mendorongnya untuk ikut serta dalam ekspedisi pelayaran pada tahun 1832, mengarungi berbagai belahan dunia selama lima tahun.
Darwin muda sangat takjub melihat beragam spesies makhluk hidup terutama jenis-jenis burung finch tertentu di kepulauan Galapagos. Ia mengira bahwa variasi pada paruh burung-burung itu disebabkan oleh adaptasi mereka terhadap habitat. Dengan pemikiran ini, ia menduga bahwa asal-usul kehidupan dan spesies berdasar pada konsep adaptasi terhadap lingkungan. Menurut Darwin, aneka spesies makhluk hidup tidak diciptakan secara terpisah oleh Tuhan, tetapi berasal dari nenek moyang yang sama dan menjadi berbeda satu sama lain akibat kondisi alam.
Selanjutnya Darwin menyatakan, individu-individu yang beradaptasi pada habitat mereka dengan cara terbaik akan menurunkan sifat-sifat mereka kepada generasi berikutnya. Sifat-sifat yang menguntungkan ini lama-kelamaan terakumulasi dan mengubah suatu individu menjdi spesies yang sama sekali berbeda dengan nenek moyangnya.
Darwin menamakan proses tersebut "evolusi melalui seleksi alam". Ia mengira telah menemukan "asal-usul spesies": suatu spesies berasal dari spesies lain. Darwin kemudian mempublikasikan pandangannya ini dalam sebuah buku berjudul "The Origin of Species, by Means of Natural Selection" (Asal-usul Spesies, melalui Seleksi Alam).
Sejak awal digulirkan teori itu sudah menuai banyak kritik dan sanggahan, khususnya dari kalangan agamawan, karena apa yang dipaparkan Darwin bertentangan dengan ajaran Yahudi, Kristen dan Islam. Pandangan agamawan, setiap jenis makhluk diciptakan masing-masing oleh Tuhan, bukan merupakan keturunan dari jenis yang lain.
Seiring dengan perjalanan waktu, kritik dan sanggahan tidak hanya berasal dari kalangan agamawan, tetapi juga berasal dari kalangan ilmuwan berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang mereka dapatkan. Bahkan kerap terjadi, bukti-bukti ilmiah yang menggugurkan teori evolusi ditemukan oleh para evolusionis sendiri. Sudah puluhan buku dan ratusan tulisan ilmuwan dipublikasikan untuk menjelaskan kelemahan teori itu.
Darwin sendiri sejak awal sudah menyadari bahwa teorinya menghadapi banyak masalah. Ia mengakui ini dalam bukunya pada bab Difficulties of The Theory. Kesulitan itu terutama pada catatan fosil dan organ-organ rumit mahkluk hidup (misalnya mata) yang tidak mungkin dijelaskan dengan konsep terjadi secara kebetulan dan naluri makhluk hidup. Darwin berharap kesulitan-kesulitan itu akan teratasi oleh penemuan-penemuan baru. Namun yang terjadi teori itu bukannya menjadi semakin menguat, tetapi malah semakin hari semakin lemah dan nyaris runtuh.
Masalahnya publikasi yang mengkritik dan menyanggah teori evolusi kalah gencar dibandingkan publikasi yang mempropagandakan teori kontroversial itu. Berbagai media massa sekuler di berbagai belahan dunia telah menjadi pendukung utama indoktrinasi dogma evolusi ke tengah masyarakat luas. Terlebih lagi, dunia pendidikan di berbagai negeri termasuk dunia pendidikan di Indonesia cenderung berpihak kepada teori evolusi.
Dalam kurikulum pendidikan biologi SMU di negeri ini misalnya, pelajaran tentang evolusi mendapat jatah dua bab (bab Asal Usul Kehidupan dan bab Evolusi). Di tingkat perguruan tinggi, khususnya di Fakultas MIPA Jurusan Biologi, teori evolusi diajarkan dalam satu mata kuliah khusus. Isinya jelas mempropagandakan teori ini tanpa mengimbangi dengan kritik dan sanggahan terhadapnya. Seolah sudah menjadi sebuah aksioma yang tak terbantahkan.
Untuk merevisinya tidaklah gampang, karena perlu upaya bersama dari kalangan biolog dan para perumus kurikulum. Seperti diungkapkan Dr Taufikurrahman, Ketua Departemen Biologi ITB, baik untuk program S1 maupun S2, mata kuliah evolusi masih menggunakan pendekatan dogmatis yang menihilkan peran Tuhan sebagai Sang Pencipta. "Untuk mereformasinya perlu ada kesepakatan bersama yang belum tercapai hingga saat ini," jelas Taufik, biolog yang memberikan Kata Pengantar pada buku "Keruntuhan Teori Evolusi".
Menyadari hal demikian, seorang cendekiawan asal Turki bernama Harun Yahya, selama dua puluh tahun terakhir bersama kelompoknya aktif melakukan riset dengan mengumpulkan berbagai bukti ilmiah yang menyanggah teori evolusi dan mempublikasikannya secara besar-besaran ke seluruh dunia. Berbagai bukunya telah disalin utuh ke situs internetnya (www.hyahya.org dan www.harunyahya.com), sehingga siapapun bisa membaca sepuasnya. Dan sebagian sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti bahasa Indonesia, Malaysia, Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Rusia, Spanyol, Arab, Portugis, Albania, Serbo-Kroasia (Bosnia), Polandia dan Urdu (India).
Buku sanggahannya terhadap teori evolusi yang berjudul The Evolution Deceit oleh penerbit Dzikra telah diterbitkan ke bahasa Indonesia dengan judul "Keruntuhan Teori Evolusi" (terjemahan yang lebih tepat: Kebohongan Teori Evolusi, red). Tentu saja isinya tidak sekedar sanggahan tanpa alasan. Ada setumpuk analisis dan bukti-bukti ilmiah yang dikumpulkan dari berbagai buku dan tulisan para pakar internasional yang menyanggah dan meruntuhkan teori evolusi, termasuk dari kalangan evolusionis sendiri.
Sebenarnya sebelum The Evolution Deceit diterjemahkan, Penerbit Mizan telah menerbitkan buku bertajuk "Evolusi Ruhani: Kritik Perenial atas Teori Darwin" (1996) yang merupakan terjemahan dari Critique of Evolutionary Theory. Isinya merupakan kumpulan karangan delapan orang pakar dari berbagai bidang ilmu yang mengkritik teori evolusi. Tercatat di antaranya Seyyed Hossein Nasr, Osman Bakar, WR Thompson, Martin Lings dan Giuseppe Sermonti.
Kritik-kritik mereka hampir sama kerasnya dengan yang dilakukan Harun Yahya. Osman Bakar misalnya, mengatakan, "Kita tak ragu lagi jika teori evolusi diperbolehkan diuji secara kritis dan terbuka oleh semua pihak yang berkepentingan, teori evolusi akan segera runtuh." Di akhir tulisannya Osman mengutip Tom Bethel, "Teori Darwin, saya yakin, sedang mendekati kejatuhannya Ia sedang dalam proses pembuangannya."
Meski kritiknya hampir sama keras, buku "Keruntuhan Teori Evolusi" karya Harun Yahya nampaknya akan lebih diminati pasar karena sejumlah alasan, antara lain tampilannya yang lebih menarik serta bahasanya yang lebih mudah dipahami masyarakat awam. Oleh penerbit Dzikra, buku Harun Yahya itu diterbitkan dengan mutu kertas yang baik serta dipenuhi dengan gambar-gambar warna-warni yang tajam, sehingga harganya relatif lebih mahal daripada buku lain seukurannya. Meski begitu, seperti dijelaskan Halfino Berry, editor Dzikra, animo masyarakat terhadap buku tersebut cukup baik. "Kami berusaha menampilkan buku Harun Yahya sebaik edisi aslinya. Alhamdulillah dalam waktu sekitar 4 bulan cetakan pertama sebanyak 2700 eksemplar sudah terjual. Dan saat ini sedang kami cetak ulang," jelas Halfino.
Buku Harun Yahya yang berjudul Deep Thinking telah diterjemahkan oleh Penerbit Robbani Press dengan judul "Bagaimana Seorang Muslim Berfikir" lebih laku lagi. Menurut manajer pemasaran Robbani Press, Muhammad Abduh, buku itu sangat diminati masyarakat. Dalam beberapa bulan ini buku Deep Thinking telah mengalami dua kali cetak ulang. "Sekarang kami sedang memproses cetakan ketiga," kata Abduh.
  • Materialisme, Rasisme, Agnotisisme dan Kloning

Banyak hal yang menarik dari buku "Keruntuhan Teori Evolusi" itu. Salah satunya adalah penjelasan Harun tentang hubungan yang erat antara teori evolusi dengan materialisme. Filsafat materialisme menyatakan bahwa keberadaan alam semesta tidak berawal dan tidak diciptakan. Artinya paham itu menolak mentah-mentah eksistensi Tuhan. Oleh Darwin filsafat yang demikian itu kemudian ia terapkan dalam menjelaskan fenomena alam.
Maka tak heran bila para pendukung filsafat materialisme, terutama penganut Marxisme, terus-menerus membela Darwinisme, meskipun teori itu bertentangan dengan logika sekalipun. Karl Marx, pencetus komunisme, pernah memuji buku karya Darwin The Origin of Species sebagai buku yang berisi landasan sejarah alam bagi pandangan mereka. Begitu simpatinya Marx pada Darwin sehingga ia menghadiahi Darwin buku Das Kapital disertai catatan kecil, "Dari seorang pengagum setia kepada Charles Darwin."
Menurut Britannica Encyclopedia, Darwin diketahui punya semangat yang senada dengan kaum materialis dan atheis, yakni agnotisisme, suatu paham yang tidak meyakini keberadaan Tuhan, tapi tidak juga menyangkal keberadaan Tuhan. Mereka orang yang mengaku 'tidak tahu' tentang ada atau tidak adanya Tuhan.
Buku Harun Yahya juga mengungkap aspek lain dari Darwin yang tidak banyak diketahui orang, yakni pandangan rasisnya. Darwin menganggap ras kulit putih Eropa lebih maju dibandingkan ras-ras lainnya. Ras-ras lain yang terbelakang, menurut Darwin, masih memiliki sifat kera. Dalam bukunya The Descent of Man, yang diterbitkannya setelah The Origin of Species, Darwin berpendapat bahwa orang-orang kulit hitam dan orang Aborigin di Australia sama dengan gorila, dan lambat laun akan disingkirkan oleh 'ras-rasa beradab'. "Di masa mendatang, tidak sampai berabad-abad lagi, ras-ras manusia beradab hampir dipastikan akan memusnahkan dan menggantikan ras-ras biadab di seluruh dunia," tulisnya.
Pandangan rasisme Darwin membuat teman dekatnya, Profesor Adam Sedgawik, merasa sangat khawatir terhadap dampak yang ditimbulkannya. "Jika buku ini diterima masyarakat luas, (maka buku) ini akan memunculkan kebiadaban ras manusia yang belum pernah tersaksikan sebelumnya.
Benar saja. Seperti dikatakan Catur Sriherwanto, penerjemah buku "Keruntuhan Teori Evolusi", pandangan Darwin yang rasis itu telah melahirkan berbagai bencana kemanusiaan selama abad 20 dan sekarang. Misalnya, Adolf Hitler pemimpin Nazi di Jerman serta Benitto Mussolini pemimpin fasis di Italia melakukan peperangan dan pembantaian kepada masyarakat non Arya dan non Eropa diilhami oleh ajaran rasisme Darwin.
Sayangnya, meski sudah menghasilkan serentetan dampak buruk, keyakinan tentang evolusi telah begitu merasuk ke dalam pemikiran banyak orang, terutama masyarakat Barat, sehingga telah menjelma menjadi 'agama' tersendiri. "Teori evolusi telah menjadi agama yang tidak toleran bagi hampir semua orang Barat yang terdidik. Ia mendominasi pemikiran, pembicaraan dan harapan-harapan peradaban mereka," ungkap ilmuwan Malaysia Osman Bakar. Akibatnya etika evolusi kerap bertentangan dengan etika agama, seperti etika Islam. Jika etika agama menempatkan manusia sebagai makhluk mulia yang berbeda dengan hewan, etika evolusi dengan seenaknya menyatakan manusia adalah satu spesies dari sekian ribu spesies hewan, manusia keturunan hewan dan terciptanya manusia terjadi secara kebetulan tanpa ada peran Tuhan.
Jika sudah menihilkan peran Tuhan, bisa ditebak bagaimana kelanjutannya. Manusia akan melakukan apa saja, termasuk yang merendahkan harkat kemanusiaannya sendiri. Contoh yang paling akhir adalah bioteknologi kloning. Kloning adalah metoda pengembangbiakan makhluk hidup tanpa proses perkawinan, mirip dengan pembiakan vegetatif pada tumbuhan.
Setelah berhasil melakukan penggandaan domba melalui metoda kloning, sejumlah ilmuwan Barat segera beranjak ke eksperimen kloning terhadap manusia. Mereka menginginkan dapat menggandakan manusia sehingga seorang manusia bisa memiliki 'fotokopian' dirinya dalam jumlah tak terbatas. Berbeda dengan kasus kloning pada domba, hewan yang tidak mengenal etika, kasus kloning pada manusia jelas berimplikasi luas dan akan mengobrak-abrik harkat kemanusiaan. Contoh sederhana, tentang orangtua, para kembar identik itu akan kebingungan menentukan siapakah orangtuanya. Misalnya, seorang bernama Inggrid memiliki orangtua bernama Robert dan Susan. Tatkala Inggrid mengkloning dirinya, ia menggunakan rahimnya sendiri untuk mengandung bakal kembar identiknya. Setelah kembar identik ia lahirkan dan diberi nama Martha, maka timbul pertanyaan: bagaimanakah status hubungan darah Inggrid dan Martha, apakah hubungan ibu dan anak atau hubungan saudara kandung?
Bagi kalangan yang beragama, jelas status hubungan itu menjadi masalah yang sangat serius, tetapi bagi kalangan materialis dan evolusionis, semua itu tidak jadi masalah. Sebab bagi mereka, apakah Tuhan ada atau tidak, tidak jadi masalah. Apalagi sekedar soal kloning. Artinya, kalau paham materialisme sudah merasuk dan peran Tuhan sudah dinihilkan, apapun akan orang lakukan, sekalipun akan menjadikan manusia kehilangan kemanusiaan dan keberadabannya.
  • Setumpuk Kelemahan Teori Evolusi

Ada terlalu banyak fakta kelemahan teori evolusi untuk ditulis pada halaman majalah ini. Tetapi dari sedikit saja yang diungkap sudah bisa meluluhlantakkan teori itu. Misalnya saja tentang catatan fosil dan keteraturan alam. Dalam Origin of Species, Darwin menjelaskan: "Jika teori saya benar (bahwa suatu spesies berasal dari spesies lain, red), pasti pernah terdapat jenis-jenis bentuk peralihan yang tak terhitung jumlahnya, yang mengaitkan semua spesies dari kelompok yang sama Sudah tentu bukti keberadaan mereka di masa lampau dapat ditemukan pada peninggalan fosil-fosil."
Ternyata teori itu tidak benar. Yang menarik, ketidakbenaran teori itu dinyatakan oleh Darwin sendiri, sehingga ia mengaku jadi terbingung-bingung: "Jika suatu spesies memang berasal dari spesies lain melalui perubahan sedikit demi sedikit, mengapa kita tidak melihat sejumlah bentuk transisi di manapun? Mengapa alam tidak berada dalam keadaan kacau-balau, tetapi justru seperti kita lihat, spesies-spesies hidup dengan sebaik-baiknya? Menurut teori ini harus ada bentuk-bentuk peralihan dalam jumlah besar, tetapi mengapa kita tidak menemukan mereka terkubur di kerak bumi dalam jumlah tidak terhitung? Telah lama kesulitan ini sangat membingungkan saya."
Atas kebingungan itu, seorang ahli paleontologi yang juga evolusionis pendukung Darwin, Mark Czarnecki, memberikan jawaban justru meruntuhkan teori Darwin: "Kendala utama dalam membuktikan teori evolusi selama ini adalah catatan fosil; jejak spesies-spesies yang terawetkan dalam lapisan bumi. Catatan fosil belum pernah mengungkapkan jenis-jenis peralihan hipotesis Darwin sebaliknya, spesies muncul tiba-tiba dan musnah secara tiba-tiba. Kepercayaan ini menguatkan argumentasi kresionis (penganut kepercayaan bahwa alam semesta dan isinya diciptakan oleh Tuhan dan menolak teori evolusi, red) bahwa setiap spesies diciptakan oleh Tuhan."
Alhasil, semakin gigih para evolusionis mencari bukti untuk mendukung teori mereka, akan semakin banyak fakta yang meruntuhkan teori itu, dan sebaliknya justru kian meneguhkan keberadaan dan kemahakuasaan Allah Sang Pencipta.
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang berakal. Yakni mereka yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS Ali Imran: 190-191).· Saiful Hamiwanto 

Teori Bingung Alam Semesta

“Alam semesta bukanlah sesuatu yang diciptakan. Jika ia diciptakan, ia sudah pasti diciptakan oleh Tuhan dengan seketika dan dari ketiadaan,” begitu ditulis filosof materialis George Politzer, dalam bukunya Principes Fondamentaux de Philosophie."

Hanya gara-gara fanatik pada keyakinannya bahwa “Tuhan tidak ada” para ilmuwan seperti Politzer ngotot mempertahankan pendapat, bahwa alam semesta bukanlah sesuatu yang diciptakan. Melainkan ada begitu saja, dengan sendirinya.
Para penganut materalisme ini meyakini model “alam semesta tak hingga” sebagai dasar berpijak paham ateis mereka. Menurut mereka alam semesta adalah sesuatu yang diam, luas tak terbatas, tak berkembang, dan kekal, dari dulu sampai nanti.
Inilah gagasan yang berkembang di abad ke-19. Selain meletakkan dasar berpijak bagi paham materialis, pandangan ini otomatis menolak keberadaan Sang Pencipta (Al-Khaliq) dan menyatakan bahwa alam semesta tidak berawal dan tidak berakhir.
Materialisme adalah sistem berpikir yang meyakini materi sebagai satu-satunya keberadaan yang mutlak dan menolak keberadaan apapun selain materi. Berakar pada kebudayaan Yunani kuno, dan mendapat penerimaan yang meluas di abad ke-19. Sistem berpikir ini menjadi terkenal dalam bentuk paham Materialisme Dialektika Karl Marx.
Ketika Politzer berpendapat bahwa alam semesta tidak diciptakan dari ketiadaan, ia berpijak pada model alam semesta statis abad ke-19, dan menganggap dirinya sedang mengemukakan sebuah pernyataan ilmiah. Lucunya, berbagai penemuan sains dan teknologi yang berkembang di abad ke-20 akhirnya meruntuhkan gagasan kuno yang dinamakan materialisme ini.


  • Astronomi Mengatakan: Alam Semesta Diciptakan

Pada tahun 1929, di observatorium Mount Wilson California, ahli astronomi Amerika, Edwin Hubble membuat salah satu penemuan terbesar di sepanjang sejarah astronomi.
Ketika mengamati bintang-bintang dengan teleskop raksasa, ia menemukan bahwa mereka memancarkan cahaya merah sesuai dengan jaraknya. Hal ini berarti bahwa bintang-bintang ini “bergerak menjauhi” kita. Sebab, menurut hukum fisika yang diketahui, spektrum dari sumber cahaya yang sedang bergerak mendekati pengamat cenderung ke warna ungu, sedangkan yang menjauhi pengamat cenderung ke warna merah.
Jauh sebelumnya, Hubble telah membuat penemuan penting lain. Bintang dan galaksi bergerak tak hanya menjauhi kita, tapi juga menjauhi satu sama lain. Satu-satunya yang dapat disimpulkan dari suatu alam semesta di mana segala sesuatunya bergerak menjauhi satu sama lain adalah bahwa ia terus-menerus “mengembang”.
Agar lebih mudah dipahami, alam semesta dapat diumpamakan sebagai permukaan balon yang sedang mengembang. Sebagaimana titik-titik di permukaan balon yang bergerak menjauhi satu sama lain ketika balon membesar, benda-benda di ruang angkasa juga bergerak menjauhi satu sama lain ketika alam semesta terus mengembang.
Sebenarnya, fakta ini secara teoritis telah ditemukan lebih awal. Albert Einstein, yang diakui sebagai ilmuwan terbesar abad ke-20, berdasarkan perhitungan yang ia buat dalam fisika teori, telah menyimpulkan bahwa alam semesta tidak mungkin statis. Tetapi, ia mendiamkan penemuannya ini, hanya agar tidak bertentangan dengan model alam semesta statis yang diakui luas waktu itu. Di kemudian hari, Einstein menyadari tindakannya ini sebagai ‘kesalahan terbesar dalam karirnya’.
Apa arti dari mengembangnya alam semesta? Mengembangnya alam semesta berarti bahwa jika alam semesta dapat bergerak mundur ke masa lampau, maka ia akan terbukti berasal dari satu titik tunggal. Perhitungan menunjukkan bahwa ‘titik tunggal’ ini yang berisi semua materi alam semesta haruslah memiliki ‘volume nol‘, dan ‘kepadatan tak hingga‘. Alam semesta telah terbentuk melalui ledakan titik tunggal bervolume nol ini.
Ledakan raksasa yang menandai permulaan alam semesta ini dinamakan ‘Big Bang‘, dan teorinya dikenal dengan nama tersebut. Perlu dikemukakan bahwa ‘volume nol‘ merupakan pernyataan teoritis yang digunakan untuk memudahkan pemahaman. Ilmu pengetahuan dapat mendefinisikan konsep ‘ketiadaan‘, yang berada di luar batas pemahaman manusia, hanya dengan menyatakannya sebagai ‘titik bervolume nol‘.
Sebenarnya, ‘sebuah titik tak bervolume‘ berarti ‘ketiadaan‘. Demikianlah alam semesta muncul menjadi ada dari ketiadaan. Dengan kata lain, ia telah diciptakan. Fakta bahwa alam ini diciptakan, yang baru ditemukan fisika modern pada abad ke-20, telah dinyatakan dalam Al-Quran 14 abad lampau: “Dia Pencipta langit dan bumi.” (Al-An’aam: 101)
Teori Big Bang menunjukkan, semua benda di alam semesta pada awalnya adalah satu wujud, dan kemudian terpisah-pisah. Ini diartikan bahwa keseluruhan materi diciptakan melalui Big Bang atau ledakan raksasa dari satu titik tunggal, dan membentuk alam semesta kini dengan cara pemisahan satu dari yang lain.


  • Big Bang, Fakta Menjijikkan Bagi Kaum Materialis

Big Bang merupakan petunjuk nyata bahwa alam semesta telah ‘diciptakan dari ketiadaan‘, dengan kata lain ia diciptakan oleh Allah. Karena alasan ini, para astronom yang meyakini paham materialis senantiasa menolak Big Bang dan mempertahankan gagasan alam semesta tak hingga.
Alasan penolakan ini terungkap dalam perkataan Arthur Eddington, salah seorang fisikawan materialis terkenal yang mengatakan: “Secara filosofis, gagasan tentang permulaan tiba-tiba dari tatanan Alam yang ada saat ini sungguh menjijikkan bagi saya”.
Seorang materialis lain, astronom terkemuka asal Inggris, Sir Fred Hoyle termasuk yang paling merasa terganggu oleh teori Big Bang. Di pertengahan abad ke-20, Hoyle mengemukakan suatu teori yang disebut Steady-state yang mirip dengan teori ‘alam semesta tetap‘ di abad ke-19.
Teori Steady-state menyatakan, alam semesta berukuran tak hingga dan kekal sepanjang masa. Dengan tujuan mempertahankan paham materialis, teori ini sama sekali berseberangan dengan teori Big Bang, yang mengatakan bahwa alam semesta memiliki permulaan. Mereka yang mempertahankan teori steady-state telah lama menentang teori Big Bang. Namun, ilmu pengetahuan justru meruntuhkan pandangan mereka.
Pada tahun 1948, Gerge Gamov muncul dengan gagasan lain tentang Big Bang. Ia mengatakan, setelah pembentukan alam semesta melalui ledakan raksasa, sisa radiasi yang ditinggalkan oleh ledakan ini haruslah ada di alam. Selain itu, radiasi ini haruslah tersebar merata di segenap penjuru alam semesta. 
Bukti yang ‘seharusnya ada‘ ini pada akhirnya diketemukan. Pada tahun 1965, dua peneliti bernama Arno Penziaz dan Robert Wilson menemukan gelombang ini tanpa sengaja. Radiasi ini, yang disebut ‘radiasi latar kosmis‘, tidak terlihat memancar dari satu sumber tertentu, akan tetapi meliputi keseluruhan ruang angkasa. Demikianlah, diketahui bahwa radiasi ini adalah sisa radiasi peninggalan dari tahapan awal peristiwa Big Bang. Penzias dan Wilson dianugerahi hadiah Nobel untuk penemuan mereka.

Pada tahun 1989, NASA mengirimkan satelit Cosmic Background Explorer [COBE] ke ruang angkasa untuk melakukan penelitian tentang radiasi latar kosmis. Hanya perlu 8 menit bagi COBE untuk membuktikan perhitungan Penziaz dan Wilson. COBE telah menemukan sisa ledakan raksasa yang telah terjadi di awal pembentukan alam semesta. Dinyatakan sebagai penemuan astronomi terbesar sepanjang masa, penemuan ini dengan jelas membuktikan teori Big Bang.
Bukti penting lain bagi Big Bang adalah jumlah hidrogen dan helium di ruang angkasa. Dalam berbagai penelitian, diketahui bahwa konsentrasi hidrogen-helium di alam semesta bersesuaian dengan perhitungan teoritis konsentrasi hidrogen-helium sisa peninggalan peristiwa Big Bang. Jika alam semesta tak memiliki permulaan dan jika ia telah ada sejak dulu kala, maka unsur hidrogen ini seharusnya telah habis sama sekali dan berubah menjadi helium.
Segala bukti meyakinkan ini menyebabkan teori Big Bang diterima oleh masyarakat ilmiah. Model Big Bang adalah titik terakhir yang dicapai ilmu pengetahuan tentang asal muasal alam semesta. Begitulah, alam semesta ini telah diciptakan oleh Allah Yang Maha Perkasa dengan sempurna tanpa cacat: 
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihtatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang.” (Al-Mulk:3)



  • Ledakan yang Membentuk Kesempurnaan

Segala bukti meyakinkan di atas telah menyebabkan teori Big Bang diterima oleh masyarakat ilmiah. Model Big Bang adalah titik terakhir yang dicapai ilmu pengetahuan tentang asal muasal alam semesta. Begitulah, alam semesta ini telah diciptakan oleh Allah Yang Maha Perkasa dengan sempurna tanpa cacat dari ketiadaan.
Dennis Sciama, yang selama bertahun-tahun bersama Sir Fred Hoyle mempertahankan teori Steady-state, yang berlawanan dengan fakta penciptaan alam semesta, menjelaskan posisi akhir yang telah mereka capai setelah semua bukti bagi teori Big Bang terungkap. Sciama menyatakan bahwa ia mempertahankan teori Steady-state bukan karena ia menanggapnya benar, melainkan karena ia berharap bahwa inilah yang benar.
Sciama selanjutnya mengatakan, ketika bukti mulai bertambah, ia harus mengakui bahwa permainan telah usai dan teori Steady-state harus ditolak. Prof George Abel dari Universitas California juga menerima kemenangan akhir Big Bang dan menyatakan bahwa bukti yang kini ada menunjukkan bahwa alam semesta bermula milyaran tahun silam melalui peristiwa Big Bang. Ia mengakui bahwa ia tak memiliki pilihan kecuali menerima teori Big Bang.
Dengan kemenangan Big Bang, mitos ‘materi kekal’ yang menjadi dasar berpijak paham materialis terhempaskan ke dalam tumpukan sampah sejarah. Lalu keberadaan apakah sebelum Big Bang; dan kekuatan apa yang memunculkan alam semesta sehingga menjadi ‘ada’ dengan ledakan raksasa ini saat alam tersebut ‘tidak ada’?
Meminjam istilah Arthur Eddington, pertanyaan ini jelas mengarah pada fakta yang ‘secara filosofis menjijikkan’ bagi kaum materialis, yakni keberadaan sang Pencipta, alias The Creator, alias Al-Khaliq.
Filosof ateis terkenal Antony Flew berkata tentang hal ini: “Sayangnya, pengakuan adalah baik bagi jiwa. Karenanya, saya akan memulai dengan pengakuan bahwa kaum Ateis Stratonisian terpaksa dipermalukan oleh kesepakatan kosmologi zaman ini. Sebab, tampaknya para ahli kosmologi tengah memberikan bukti ilmiah bahwa alam semesta memiliki permulaan.”
Banyak ilmuwan yang tidak secara buta menempatkan dirinya sebagai ateis telah mengakui peran Pencipta yang Mahaperkasa dalam penciptaan alam semesta. Pencipta ini haruslah Dzat yang telah menciptakan materi dan waktu, namun tidak terikat oleh keduanya.
Ahli astrofisika terkenal Hugh Ross mengatakan: “Jika permulaan waktu terjadi bersamaan dengan permulaan alam semesta, sebagaimana pernyataan teorema ruang, maka penyebab terbentuknya alam semesta pastilah sesuatu yang bekerja pada dimensi waktu yang sama sekali tak tergantung dan lebih dulu ada dari dimensi waktu alam semesta. Kesimpulan ini memberitahu kita bahwa Tuhan bukanlah alam semesta itu sendiri, Tuhan tidak pula berada di dalam alam semesta.”
Begitulah, materi dan waktu diciptakan oleh sang Pencipta yang tidak terikat oleh keduanya. Pencipta ini adalah Allah, Dialah Penguasa langit dan bumi.
Sebenarnya, Big Bang telah menimbulkan masalah yang lebih besar bagi kaum materialis daripada pengakuan Filosof ateis, Antony Flew. Sebab, Big Bang tak hanya membuktikan bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan, tetapi ia juga diciptakan secara sangat terencana, sistematis dan teratur.
Big Bang terjadi melalui ledakan suatu titik yang berisi semua materi dan energi alam semesta serta penyebarannya ke segenap penjuru ruang angkasa dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dari materi dan energi ini, munculah suatu keseimbangan luar biasa yang melingkupi berbagai galaksi, bintang, matahari, bulan, dan benda angkasa lainnya. Hukum alam pun terbentuk yang kemudian disebut ’hukum fisika’, yang seragam di seluruh penjuru alam semesta, dan tidak berubah.
Hukum fisika yang muncul bersamaan dengan Big Bang tak berubah sama sekali selama lebih dari 15 milyar tahun. Selain itu, hukum ini didasarkan atas perhitungan yang sangat teliti sehingga penyimpangan satu milimeter saja dari angka yang ada sekarang akan berakibat pada kehancuran seluruh bangunan dan tatanan alam semesta. Semua ini menunjukkan bahwa suatu tatanan sempurna muncul setelah Big Bang.
Namun, yang namanya ledakan tidak mungkin memunculkan tatanan sempurna. Semua ledakan cenderung berbahaya, menghancurkan, dan merusak apa yang ada. Mulai dari ledakan gunung berapi sampai ledakan kompor di dapur, semua bersifat merusak.

Karenanya, jika kita diberitahu tentang kemunculan tatanan sangat sempurna setelah suatu ledakan, kita dapat menyimpulkan bahwa ada campur tangan ‘cerdas’ di balik ledakan ini, dan segala serpihan yang berhamburan akibat ledakan ini telah digerakkan secara sangat terkendali.
Sir Fred Hoyle, yang akhirnya harus menerima teori Big Bang setelah bertahun-tahun menentangnya, mengungkapkan hal ini dengan jelas: “Teori Big Bang menyatakan bahwa alam semesta berawal dari satu ledakan tunggal. Tapi, sebagaimana diketahui, ledakan hanya menghancurkan materi berkeping-keping, sementara Big Bang secara misterius telah menghasilkan dampak yang berlawanan -yakni materi yang saling bergabung dan membentuk galaksi-galaksi.”
Tidak ada keraguan, jika suatu tatanan sempurna muncul melalui sebuah ledakan, maka harus diakui bahwa terdapat campur tangan Pencipta yang berperan di setiap saat dalam ledakan ini.
Hal lain dari tatanan luar biasa yang terbentuk di alam menyusul peristiwa Big Bang ini adalah penciptaan ‘alam semesta yang dapat dihuni’. Persyaratan bagi pembentukan suatu planet layak huni sungguh sangat banyak dan kompleks, sehingga mustahil untuk beranggapan bahwa pembentukan ini bersifat kebetulan.
Setelah melakukan perhitungan tentang kecepatan mengembangnya alam semesta, Paul Davis, profesor fisika teori terkemuka, meyakini bahwa kecepatan ini memiliki ketelitian yang sungguh tak terbayangkan.
Davis berkata: “Perhitungan jeli menempatkan kecepatan pengembangan ini sangat dekat pada angka kritis yang dengannya alam semesta akan terlepas dari gravitasinya dan mengembang selamanya. Sedikit lebih lambat dan alam ini akan runtuh, sedikit lebih cepat dan keseluruhan materi alam semesta sudah berhamburan sejak dulu. Jelasnya, Big Bang bukanlah sekedar ledakan zaman dulu, tapi ledakan yang terencana dengan sangat cermat. “
Fisikawan terkenal, Prof Stephen Hawking mengatakan dalam bukunya A Brief History of Time, bahwa alam semesta dibangun berdasarkan perhitungan dan keseimbangan yang lebih akurat dari yang dapat kita bayangkan.
Dengan merujuk pada kecepatan mengembangnya alam semesta, Hawking berkata: “Jika kecepatan pengembangan ini dalam satu detik setelah Big Bang berkurang meski hanya sebesar angka satu per-seratus ribu juta juta, alam semesta ini akan telah runtuh sebelum pernah mencapai ukurannya yang sekarang.”
Paul Davis juga menjelaskan akibat tak terhindarkan dari keseimbangan dan perhitungan yang luar biasa akuratnya ini: “Adalah sulit menghindarkan kesan bahwa tatanan alam semesta sekarang, yang terlihat begitu sensitif terhadap perubahan angka sekecil apapun, telah direncanakan dengan sangat teliti. Kemunculan serentak angka-angka yang tampak ajaib ini, yang digunakan alam sebagai konstanta-konstanta dasarnya, pastilah menjadi bukti paling meyakinkan bagi keberadaan desain alam semesta.”
Berkenaan dengan kenyataan yang sama ini, profesor astronomi Amerika, George Greenstein menulis dalam bukunya The Symbiotic Universe: “Ketika kita mengkaji semua bukti yang ada, pemikiran yang senantiasa muncul adalah bahwa kekuatan supernatural pasti terlibat.”
Singkatnya, saat meneliti sistem yang luar biasa mengagumkan di alam semesta, akan kita pahami bahwa keberadaan dan cara kerjanya bersandar pada keseimbangan yang sangat sensitif dan tatanan yang terlalu kompleks untuk dijelaskan oleh peristiwa kebetulan.
Sebagaimana dimaklumi, tidaklah mungkin keseimbangan dan tatanan luar biasa ini terbentuk dengan sendirinya dan secara kebetulan melalui suatu ledakan besar. Pembentukan tatanan semacam ini menyusul ledakan seperti Big Bang adalah satu bukti nyata adanya penciptaan supernatural.
Rancangan dan tatanan tanpa tara di alam semesta ini tentulah membuktikan keberadaan Pencipta, beserta Ilmu, Keagungan dan Hikmah-Nya yang tak terbatas, Yang telah menciptakan materi dari ketiadaan dan Yang berkuasa mengaturnya tanpa henti. Sang Pencipta ini adalah Allah, Tuhan seluruh sekalian alam.

COMMENTS

free counters

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More