BAB I:
TANDA-TANDA ORANG YANG ARIF
HARAPAN MENGECIL KETIKA DIHADAPKAN PADA KEGAGALAN
مِنْ عَلَامَاتِ الْاِعْتِمَادِ عَلىَ الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُوْدِالزَّلَلِ.
Salah satu tanda (orang yang banyak) berharap pada amalnya, berkurangnya kertergantungan saat menemui kegagalan.
Tanda-tanda ketergantungan seorang amil (orang yang beramal) terhadap amalnya adalah berkurangnya harapan akan rahmat Allah ketika muncul kegagalan. Mafhumnya adalah besarnya harapan seseorang ketika melakukan amal dengan sebaik-baiknya, dan meninggalkan harapan itu ketika terjadi kegagalan. Ini merupakan hikmah yang sesuai dengan orang-orang arif yang bersaksi bahwa semua amal berasal dari Tuhan semesta alam, sebagaimana firman Allah SWT,
”Dan Allah menciptakan kamu dan amal-amalmu.” (Ash-Shâfât: 96)
Harapan mereka tidak terlalu berlebihan ketika melakukan amal shaleh, karena mereka tidak merasa beramal semata-mata karena diri mereka. Demikian juga, tidak berkurang harapan mereka akan rahmat Allah walaupun ketaatan mereka secara formal berkurang ataupun melakukan sebuah kegagalan. Hal ini karena mereka tenggelam dalam lautan ridha terhadap takdir Allah. Mereka berpegang pada qadha’ Tuhannya yang menciptakan sesuatu dan memilih apa saja yang Dia kehendaki, karena ridha terhadap qadha’ merupakan kewajiban bagi setiap kaum muslimin. Hanya saja yang tercela adalah apabila terlalu fatalis, dengan meninggalkan usaha sama sekali. Dalam sebuah syairnya, penulis berkata:
Dosa seseorang tidaklah menghalanginya dalam mengapai harapan-harapannya
Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun atas segala dosa.
Sedangkan yang relevan bagi seorang sâlik (ahli ibadah bagi kalangan sufi) adalah merasa bahagia ketika melakukan amal shaleh dan merasa khawatir karena berkurangnya harapan ketika munculnya kegagalan. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Imam ad-Dardiri,
Kekhawatiran telah mendominasi seseorang dan mengalahkan harapan
Dan bergembiralah karena ketentuan Tuhanmu dengan tanpa berdiam diri
Terlebih lagi di era sekarang ini, di mana implementasi agama semakin berkurang, maksiat telah merajalela dan sifat amanah semakin berkurang. Allah SWT. menjadikan amal-amal shaleh sebagai sebab untuk mengangkat derajat seseorang di Hari Kiamat nanti, sedangkan amal-amal jelek menjadi sebab dilemparnya seseorang dalam neraka yang paling bawah. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT.,
”Adapun orang-orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (Al-Lail: 5-10)
Penulis memang memulai pembahasan dalam kitab ini dengan hikmah-hikmah yang sesuai dengan orang-orang arif (mengetahui Tuhannya), kemudian semakin meningkat sampai pada derajat para sâlik yang termotifasi untuk beramal kebaikan. Juga, berpegang pada faktor-faktor yang mendorong seseorang pada kemuliaan, agar seorang sâlik memulai amalnya dengan amal-amal baik yang bisa dipetiknya di akhir nanti. Maksud hikmah ini adalah memberikan motifasi agar sâlik mampu menumbuhkan semangatnya dalam beramal dan mengangkat cita-citanya, serta tidak bergantung pada siapa pun. Ia harus menyandarkan amalnya hanya kepada Allah SWT, sebagaimana diisyaratkan oleh Ibnu Al-Farid:
Berpeganglah pada kerendahan hawa nafsu, dan lepaskanlah rasa malu
Maka lepaslah jalan orang-orang yang ibadah, walaupun ia mengkilap
Syair ini mengingatkan, agar tidak tergantung dan hanya berpegang pada substansi amal seseorang walaupun itu amal yang mulia. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa amal seseorang ansich sama sekali tidak mampu memasukkan seseorang ke surga, para sahabat bertanya, ”Demikian juga engkau wahai Rasulullah”, beliau menjawab, ”Demikian juga saya, kecuali jika Allah SWT melimpahkan karunia dan rahmatnya kepada saya.” Hadits ini dan ayat yang menyebutkan, ”Masuklah ke surga dengan amal yang telah kamu perbuat” dapat dikombinasikan bahwa amal seseorang tidaklah bermanfaat kecuali jika amal itu diterima dan diterimanya amal tersebut karena karunia dari Allah, sehingga benarlah bahwa masuknya seseorang ke surga hanya semata-mata karena karunia Allah. Amal perbuatan merupakan sebab zhahir yang masih bergantung pada ridha Allah SWT.
lebih lengkapnya silahkan download di sini!!!







1 komentar:
Janganlah sungkan utk ttp berbagi tentang yg hak.
thanks
Posting Komentar
Bagi Para Pengunjung yang tidak memiliki account di mana pun, baik itu di google, wordpress atau yang lainnya, silahkan pilih ANONYMOUS untuk memberi komentar, harap menyertakan nama atau email! Thanks....