Hasil sebuah penelitian terbaru di Amerika mengindikasikan, disleksia atau gangguan belajar pada anak sekolah mungkin lebih banyak diderita anak laki-laki ketimbang perempuan.
Menurut hasil riset yang dipublikasikan dalam jurnal kesehatan Mayo Clinic Proceedings edisi 15 November, para ahli menemukan bahwa laki-laki mempuanyi kemungkinan dua atau tiga kali lebih besar menderita disleksia dibanding perempuan.
Hasil temuan ini merupakan bagian dari sebuah penelitian berukuran besar yang dilakukan dengan menguji kemampuan membaca dari sekitar 5,718 anak yang lahir di Rochester Minn antara 1976 hingga 1982 dan masih berusia sekitar lima tahun.
Disleksia merupakan gangguan yang menyebabkan seseorang mengalami kesulitan membaca meskipun orang tersebut memiliki yang kecerdasan dan akses pendidikan yang cukup memadai.
Dari hasil penelitian, ketidakmampuan membaca tercatat bervariasi antara lima hingga 12 persen dari seluruh populasi, dan hasil itu mengindikasikan bahwa disleksia memang lebih banyak ditemukan di antara anak-anak.
Menurut beberapa riset sebelumnya, disleksia bisa disebabkan oleh abnormalitas daerah otak yang terlibat dalam proses belajar keterampilan baru. Faktor-faktor yang menyebabkan gangguan ini masih belum dapat diketahui, namun ada bukti ilmiah kuat yang mengindikasikan bahwa penyebabnya mungkin faktor genetik.
Menurut, Dr. Slavica Katusic, seorang epidemiolog di Mayo Clinic yang juga memimpin riset ini, riset lain pun menunjukkan, otak pria dan wanita memang memberikan reaksi yang berbeda saat proses membaca, sehingga perbedaan ini mungkin pula memberi pengaruh kepada hasil penelitian ini.
Katusic juga merencanakan studi lanjutan untuk mengetahui apa yang menjadi penyebab perbedaan itu. Menurutnya, ada sejumlah faktor yang dicurigai berpengaruh dalam menimbulkan disleksia misalnya faktor selama masa kehamilan atau ketika melahirkan. (abc/ac)
Menurut hasil riset yang dipublikasikan dalam jurnal kesehatan Mayo Clinic Proceedings edisi 15 November, para ahli menemukan bahwa laki-laki mempuanyi kemungkinan dua atau tiga kali lebih besar menderita disleksia dibanding perempuan.
Hasil temuan ini merupakan bagian dari sebuah penelitian berukuran besar yang dilakukan dengan menguji kemampuan membaca dari sekitar 5,718 anak yang lahir di Rochester Minn antara 1976 hingga 1982 dan masih berusia sekitar lima tahun.
Disleksia merupakan gangguan yang menyebabkan seseorang mengalami kesulitan membaca meskipun orang tersebut memiliki yang kecerdasan dan akses pendidikan yang cukup memadai.
Dari hasil penelitian, ketidakmampuan membaca tercatat bervariasi antara lima hingga 12 persen dari seluruh populasi, dan hasil itu mengindikasikan bahwa disleksia memang lebih banyak ditemukan di antara anak-anak.
Menurut beberapa riset sebelumnya, disleksia bisa disebabkan oleh abnormalitas daerah otak yang terlibat dalam proses belajar keterampilan baru. Faktor-faktor yang menyebabkan gangguan ini masih belum dapat diketahui, namun ada bukti ilmiah kuat yang mengindikasikan bahwa penyebabnya mungkin faktor genetik.
Menurut, Dr. Slavica Katusic, seorang epidemiolog di Mayo Clinic yang juga memimpin riset ini, riset lain pun menunjukkan, otak pria dan wanita memang memberikan reaksi yang berbeda saat proses membaca, sehingga perbedaan ini mungkin pula memberi pengaruh kepada hasil penelitian ini.
Katusic juga merencanakan studi lanjutan untuk mengetahui apa yang menjadi penyebab perbedaan itu. Menurutnya, ada sejumlah faktor yang dicurigai berpengaruh dalam menimbulkan disleksia misalnya faktor selama masa kehamilan atau ketika melahirkan. (abc/ac)







0 komentar:
Posting Komentar
Bagi Para Pengunjung yang tidak memiliki account di mana pun, baik itu di google, wordpress atau yang lainnya, silahkan pilih ANONYMOUS untuk memberi komentar, harap menyertakan nama atau email! Thanks....