KH. Abdullah Gymnastiar
Maha suci Allah, Dzat yang telah mengaruniakan kepada hamba-
hambanyaKemampuannya untuk bermakrifat kepada-Nya. Dan sungguh
kemuliaan dan keutamaan manusia yang melebihi makhluk-makhluk ciptaan
Allah Iainnya itu adalah ka-ena kemampuan untuk bermmakrifat kepada-
nya... Dan sesungguhnya makrifat kepada Allah hanya dapat dilakukan
dengan hati (kalbu), bukan dengan anggota tubuh yang lain.
Hatilah yang bergerak menggerakkan untuk mengdekat kepada
Allah, bekerja karena-Nya, berjalan menuju-Nya, dan bahkan hanya
dengan hati sajalah manusia mampu menyingkap apa-apa yang ada di sisi
Allah dan yang ada padanya-Nya Nyatalah bahwa peran dan kedudukan
hati atas anggota lainnya adalah teramat vital. Ia seumpama raja yang
berkuasa penuh mengatur rakyatnya Kalau sang raja baik, maka ia akan
mengatur rakyatnya ke arah yang baik dan menganjurkan mereka agar
berbuat yang baik pula, sehingga terhindar dari tujuan- tujuan lain
selain Allah.
Tapi sebaliknya, bila rajanya zhalim, jahat, aniaya dan
menganjurkan kepada yang munkar, akan terseretlah rakyatnya ke
sesuatu selain Allah, yang akibatnya rentetan bencanalah yang akan
menimpa rakyat yang diaturnya itu, akibatnya terhijablah mereka dari
mengenal Allah SWT. Pantaslah kalau Rasulullah SAW
bersabda, "Ingatlah dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging Bila
ia baik, akan baiklah seluruh tubuh itu, tetapi hila ia rusak, maka
akan rusak pula tubuh itu seluruhnya, Segumpal daging itu adalah hati
(kalbu)," (H.R, Bukhari Muslim]
Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Ka'bul Ahbar melalui Aisyah
r.a bahwa Nabi SAW bersabda, "Manusia itu kedua matanya adalah
pemberi petunjuk, kedua telinganya adalah corong, lidahnya adalah
juru bahasa, kedua tangannya adalah sayap, kedua kakinya adalah pos,
sedangkan rajanya adalah hati. Maka apabila raja itu baik, maka baik
pula tentara-tentaranya" [AI Hadits].
Maka, sungguh meneliti dan mengoreksi hati adalah hal yang
perlu terus menerus kita lakukan agar hati kita ini senantiasa
terkontrol kondisinya. Ditinjau dari segi hidup- matinya hati, Dr.
Ahmad Faridh dalam kitabnya, Tazkiyat An Nufus. Kitab yang berisi
pemikiran Imam Ibnu Rajab AI Hambali, AI Hafizh Ibnu Qayyim AI
Jauziyah, dan Imam AI Ghazali - membagi hati manusia ke dalam tiga
karakter.
1) Hati yang sakit (al Qalbu al Maridh)
Perumpamaan bagi orang yang hatinya sakit adalah ia tak
ubahnya seperti gelas kotor dan kusam yang tak pernah dibersihkan,
lalu diisi air keruh. Perhatikanlah, bahwa jangankan memasukan
sebutir debu yang kasat mata ke dalamnya, benda-benda seperti paku
payung, jarum, silet atau pula patahan pisau cutter sekalipun tidak
akan tarnpak terlihat. Yang terlihat tak pemah berubah, yaitu hanya
kotor dan kusamnya gelas. Perumpamaan lain bagi orang yang hatinya sa
kit, ialah ibarat cermin, ia sakit, ialah ibarat cermin, ia adalah
cermin yang tidak terawat, sehingga penuh noktah-noktah (titik-titik)
hitam.
Mulanya mungkin hanya satu noktah, namun dari hari ke hari
noktah tersebut terus bertarrbah. Akibatnya setiap benda, sebagus
apapun yang disirnpan di mukanya, akan tarnpak lain pantulan
bayangannya. Setidak-tidaknya bayangan benda itu tampak buram dan
lebih buruk dari aslinya. Apalagi yang bercermin di depannya,
siapapun dia, niscaya akan merasa kecewa.
Sebab, sebagus dan serapih apapun dandanannya, bayangan yang
terpantul dari cennin akan tampak buruk dan kusam Begitulah hati yang
sakit. la akan tampak penuh noktah hitam dan noktah itu akan terus
bertambah" Dari waktu ke waktu, Hari ini melekat noktah riya, esoknya
melekat noktah ujub, Lusanya mungkin noktah iri dengki, lain kali
noktah berniat buruk, su'uzhon, berkata-kata Sia-sia, lalai menjaga
pandangan, dan seterusnya, Akhirnya hati pun penuh tumpukan noktah-
noktah hitam. Jadilah ia qolbun maridh! Naudzhibillah.
Orang yang menderita qolbun maridh (hati yang sakit) akan
sulit menilai secara jujur apapun yang tampak di depannya, Melihat
orang sukses, timbul iri dengki, Mendapat kawan beroleh karunia
rizki, timbul resah, gelisah, dan ujung-ujungnya menjadi benci,
Dihadapkan pada siapapun yang memiliki kelebihan, hatinya akan serta
merta menyelidki Bibit-Bibit dan kekurangannya, Bila sudah ditemukan
hatinya pun akan senang bukan kepalang, Ibarat menemukan barang
berharga, ia pun lalu mengumbar dan mengabarkan Bibit dan kekurangan
orang itu kepada siapa saja, agar kelebihannya menjadi tenggelam,
naudzhubillah Sungguh rnalang dan kasihan orang yang kelakuannya
seperti ini, hal ini terjadi karena hatinya yang dibiarkan sakit.
Dari Hudzaifah bin ,AJ Yaman r,a. Rasulullah SAW pemah
bersabda, " Bencana (fitnah) menyerang hati seperti teranianya tikar
seutas-seutas, Maka hati yang menerima bintik- bintik fitnah
tersebut, akan tertitiklah pada noktah-noktah hitam, sedangkan hati
yang tidak menerimanya, akan tergoreslah padanya titik-titik putih,
Akibatnya, hati ter-bagi menjadi dua bagian, Pertama, hati yang hitam
legam, cekung bagaikan sebuah gayung terbalik (tertelungkup) , Tidak
kenal yang rnakruf dan tidak ingkar kepada yang munkar, kecuali apa-
apa yang diserap oleh hawa nafsunya, Kedua, hati yang cerah dan putih
bersih, yang tidak ternodai fitnah selama bumi dan langit
terbentang"[H.R Muslim].
Adapun ciri lainnya dari hati yang sakit adalah cenderung
gemar terhadap makanan ruhani yang memudharatkannya, tetapi sangat
enggan terhadap santapan ruhani yang bermanfaat Ia biarkan penyakit
yang berbahaya karena enggan minum obat yang berguna.Sedang hati yang
sehat dan selamat akan menerima obat ruhani yang menyehatkan dan
meninggalkan makanan ruhani yang menyesatkan dan membahayakan.
Padahal sungguh tiada santapan ruhani yang paling
bermanfaat, selain iman, sedangkan sedangkan obatnya yang paling
efektif ialah mernbaca AI-Quran. Walhasil, hati yang sakit adalah
hati yang hidup, namun mengandung penyakit. Di dalam qolbun maridh
disatu pihak terdapat mahabbah (kecintaan) kepada Allah: iman,
ikhlas, dan tawakkal kepada-Nya. Di pihak lain, terdapat rasa cinta
terhadap hawa nafsu, rasa tamak untuk meraih kesenangan, mementingkan
kehidupan dunia, dan hal-hal lainnya.
Padahal hati serupa bejana, selama bejana itu berisi air,
rnaka udara tidak akan bisa masuk Begitu pula hati yang disibukan
dengan hawa nafsu, sifat tamak, dan mementingkan dunia sehingga lalai
terhadap Allah, maka tidak akan dapat masuk ke dalam hati tersebut
perasaan makrifat dan penampakan keagungan Allah SWT Sebagaimana yang
disabdakan Rasulullah SAW, "Andaikan syetan-syetan itu tidak
mengerubungi hati anak Adam, niscaya mereka dapat memandang ke alam
malaikat yang ada di langit" [H. R. Ahmad]
2. Hati yang mati (at Qatbu at Mayyit)
Hati yang mati adalah hati yang sepenuhnya dikuasai hawa
nafsu sehingga ia terhijab dari mengenal Tuhannya. Hari-harinya
adalah hari-hari penuh kesombongan terhadap allah, sama sekali ia
tidak mau beribadah kepada-Nya, dia juga tidak mau menjalankan
perintah dan apa-apa yang diridhai-Nya. Hati model ini berada dan
berjalan bersama hawa nafsu dan keinginan-nya walaupun sebenarya hal
itu dibenci dan dimurkai Allah. Ia sudah tak peduli, apakah Allah
ridha kepadanya atau tidak? Sungguh, ia telah berhamba kepada selain
Allah Bila mencintai sesuatu, ia mencintainya karena hawa nafsunya.
Begitu pula apabila ia menolak, mencegah, membenci sesuatu juga
karena hawa nafsunya.
Hawa nafsu telah menguasai dan bahkan menjadi pemimpin dan
pengendali bagi dirinya. Kebodohan dan kelalaian adalah sopirnya.
Kemana saja ia bergerak, maka gerakannya benar-benar telah
diselubungi oleh pola pikir meraih kesenangan duniawi semata. Pendek
kata, hatinya telah tertutup oleh lapisan kegelapan cinta dunia dan
mempertaruhkan hawa nafsu. (Sumber : www.klikdt.com)







0 komentar:
Posting Komentar
Bagi Para Pengunjung yang tidak memiliki account di mana pun, baik itu di google, wordpress atau yang lainnya, silahkan pilih ANONYMOUS untuk memberi komentar, harap menyertakan nama atau email! Thanks....